Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 21 Juli 2019)

Melepaskan Gara ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Melepaskan Gara ilustrasi Budiono/Jawa Pos

PUTIH, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Kelak, ia akan menyembul dari lubang telingamu dan menggerogoti kenangan-kenangan di dalam kepalamu. Tanpa sisa! Semua kenangan di dalam kepalamu lalu sempurna hilang. Bahkan termasuk nama anakmu, Gara. Lengkapnya, Kynan Garawiksa.

“Kenapa aku kok mesti mondok, Yah?” tanyanya di suatu malam seusai menyantap mi goreng kesukaannya yang rutin kubuatkan.

Sekenanya saja aku menjawab—kepada anak berusia dua belas setengah tahun, tak bijak bila kuderakan jawaban panjang bahwa kau harus memiliki ilmu pengetahuan yang dalam dan luas agar nalarmu bisa selalu kritis dan pula kau mesti mengasah hatimu dengan laku-laku riyadhah agar hatimu jernih supaya kelak kau tak menjadi cebong atau kampret yang sama-sama bebal, tengik, bacin, dan bau comboren mampat akhlaknya—“Supaya kelak jika sudah beristri dan beranak-cucu, kamu bisa mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan baik dan bijak.”

Gara bertanya lagi, “Di pondok ada Indormart-nya nggak, Yah?”

“Oh, ada, ada,” jawabku cepat. Ini pertanyaan enteng, sangat enteng, maka jawabannya pun enteng, sangat enteng. Toh, jikapun ternyata tak ada, tak sulit bagiku untuk mengadakannya. Kau ini, Nak, kayak lagi berurusan sama siapa to?

Sebuah tangisan pecah dari mulut seorang lelaki sebaya Gara. Ada dua larik pekikan yang mengiris wajah langit, juga hatiku. Semua mata seketika menyergap tubuhnya yang berguncang. Sedihnya ia ditinggal orang tuanya, gumamku, hatinya pasti sangat tersayat. Anak baru umur 12-13 tahun, betapa masih kecilnya. Seno Gumira Ajidarma barangkali belum pernah menyaksikan jerit pilu seorang anak sekecil itu yang menangis karena harus tinggal di pesantren dan berpisah dengan orang tuanya. Juga dunia kanaknya. “Tiada yang lebih sedih dari hati seorang perempuan yang menangis karena cinta,” kata Seno. Ah, ada-ada saja Seno ini. Semoga Gara selalu baik-baik saja, tak menangis seperti anak itu, doaku dalam hati.

Gara sekilas tersenyum kecil kepada anak yang menangis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kuhafal. Tiap lekuk wajah dan tubuhnya, aku hafal. Kau tanya apa saja tentang Gara, spontan aku akan sangat bisa menceritakannya. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya….

Advertisements