Cerpen IDK Raka Kusuma (Denpost, 21 Juli 2019)

Galungan ilustrasi Mustapa -Denpostw.jpg
Galungan ilustrasi Mustapa/Denpost

HARI Raya Galungan, bagi orang-orang seagama denganku, pasti dirayakan sebagai hari kemenangan. Hari yang dirayakan dengan wajah sumringah memancarkan rasa bahagia tak terkira.

Bagiku? Kau pasti beranggapan aku ingin tampil beda. Atau cari sensasi murahan. Kalau aku katakan dengan wajah sangar tetapi hati penuh luka: Galungan bagiku hari kekalahan. Kekalahan total bahkan.

Apa pasal? Kenapa? Bisa jadi tiga patah kata dengan dua tanda tanya itu kau lontarkan dari bibirmu menanggapi pernyataanku barusan. Akan kujawab. Tapi, sebelum kulepas jawaban jangan kau anggap aku mendramatisir keadaan. Jangan kau anggap aku mengeksploitasi cerita secara berlebihan, bila aku katakan, sampai sekarang kekalahan itu masih tetap kurasakan.

Dengarlah. Pada hari raya Galungan itu, aku dan ibu tak punya apa-apa. Pinjam atau minta pada tetangga? Jangan harap dapat. Dan pasti tak mendapat. Apa yang menyebabkan? Pasti pertanyaan terlontar lagi dari bibirmu setelah mengembuskan asap rokok.

Penyebabnya, aku dan ibuku sangat dibenci tetangga. Yang menyebabkan demikian, sebelum ibu menjadi janda, ayahku perampok ulung dan pembunuh berdarah dingin yang sadis. Tanpa takut, ayahku merampok di desa-desa lain. Sekaligus membunuh pemilik rumah yang berani melawan. Bukan hanya perempuan dia bunuh. Anak kecil pun dia habisi. Bahkan pula, nenek atau kakek dia tikam dengan klewang, bila amarahnya memuncak akibat perlawanan sengit pemilik rumah.

Ayahku, pasti kau tanyakan, kok menang terus dalam melakukan operasi? Ayahku pesilat tangguh. Tubuhnya kebal. Padaku sering dia pamerkan saat menurunkan ilmu silatnya kepadaku di kebun kelapa yang luas di belakang rumah. Aku tidak berani bertanya kepada ayahku, di mana dia memperoleh kedigdayaan itu. Aku tidak berani bertanya, pada awal menurunkan ilmu silatnya padaku, ayah melarang bertanya. Satu pertanyaan, kata ayahku dengan nada suara mengancam, satu bogem mentah di pipi plus dua tendangan di pantat.

Semula ayahku sendiri melakukan perampokan plus pembunuhan itu. Kemudian, ayahku punya komplotan. Komplotan ayahku berjumlah lima orang termasuk dia. Selain ayah, semua, atau keempatnya berasal dari luar desaku. Keempatnya pesilat tangguh, kebal dan berdarah dingin. Bedanya, keempatnya, besar dan berotot. Keempatnya berkepala plontos.

Advertisements