Cerpen El Cavega Terasu (Media Indonesia, 21 Juli 2019)

Fragmen ketika Galunggung Menangis ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.gif
Fragmen ketika Galunggung Menangis ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

Gigil raga ditampar udara pegunungan. Jauh di sana, kau tersenyum manja, dan aku hanya mencubit pipimu gemas. Begitulah foto lawas itu terlihat. Foto seorang wanita yang telah menjajah hati ini begitu lama, entah masih harus berapa lama lagi luka itu menganga dan bernanah-nanah. Percayakah terhadap sebuah rasa yang membuat diri terlihat mengenaskan dan gila? Sampai rasanya jiwa ingin meledak dan menjilati rindu yang entah sudah terserak kemana.

Senja sudah mulai bercumbu dengan altar langit tua. Jingganya merona, seolah membawa serpihan kenangan yang sangat menyakitkan. Mata memanas begitu saja, sesuatu di balik dada berdegup lebih kencang dari biasanya. Cangkir kopi di depanku masih meruapkan aroma yang menggoda, tetapi tawar untuk dinikmati dalam kepedihan.

Apa kau tahu? Bahkan lelaki terhebat pun pernah menangis. Saat ada orang yang mengatakan bahwa seorang pria haruslah tegar, dan tak meneteskan air matanya, maka bisa dipastikan dia tidak benar-benar mengenal mahluk perkasa tersebut. Apa aku pernah menangis? Ah tentu saja, bukan tangisan cengeng di hadapan siapa saja, tapi sebuah tangisan sakral yang hanya dinikmati petapa-petapa jiwa dalam kesunyian yang sempurna.

Mata awas memandangi kawah kehijauan, di tengahnya terdapat sebuah pulau yang mungkin akan membuat siapa pun takjub melihatnya, alunan lembut tembang lawas dari sebuah tape di warung kecil tempatku duduk, menyelusup dalam. Raga menikmati emosi fragmen kenangan lama, yang seolah menusuk gendang telinga. Menikam hati semakin berdarah-darah. Pedih itu datang lagi, silam terpampang jelas. Sebuah pengkhianatan terlukis kasar dalam benak, melahirkan sesak menetap.

Ingatan tiga dasawarsa itu makin merupa potongan video pendek yang ditayangkan kembali, dan raga tak kuasa menolak dan mengusirnya.

“Tunggu aku, nanti akan datang menjemputmu.”

Kira-kira seperti itulah telegram yang kukirimkan untuk wanita berlesung pipi, pemilik hati ini. Dengan tergesa, penuh keringat, dan rasa khawatir berlebihan, aku mendatangi bilik penyedia telegram. Dalam suasana genting itu, diri berharap bahwa pesan itu bisa sampai, dia bisa membacanya. Aku pasti pulang. Menjemputmu. Menanam tundra-tundra harapan, berharap suatu hari nanti bisa tumbuh menjadi sebuah tumbuhan dan berbunga keindahan.

Advertisements