Cerpen Hilwa Fitri (Serambi Indonesia, 21 Juli 2019)

Angkot Tua ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Angkot Tua ilustrasi Serambi Indonesia

 SETELAH setengah jam berbaring, mataku masih tak mau diajak terpejam. Bayangan hal-hal yang kutemui hari ini terus terngiang. Mulai dari bapak renta bersama angkot tuanya yang kutumpangi untuk tiba di toko buku. Angkot itu kosong, namun demi melihatku yang terburu-buru ia segera menghidupkan mesin dan tersenyum kecil ke arahku. “Ayo, Mbak,” ujarnya dengan suara serak.

Aku memilih duduk di bangku paling depan, ya bangku di sebelah pak sopir. Sontak, ia terlihat sedikit terkejut menyaksikan aku kini ada di sebelahnya. “Ada apa ya Pak? Ada yang aneh?” Aku masih ingat kalimat pertama yang kulontarkan. “Iya, aneh betul. Seumur-umur saya ngangkot, baru sekarang ada perempuan muda yang duduk di bangku depan. Biasanya kalo bukan ibu-ibu dengan anaknya, ya laki-laki mbak. Apalagi angkotnya kosong begini,” katanya dengan suara yang tidak terlalu jelas.

“Iya Pak, lagi pula tidak ada bedanya depan dan belakang, yang penting sampai tujuan,” Jawabku seadanya.

“Beda, Mbak. Resiko kecelakaan lebih besar di depan.”

Glek aku menelan ludah. Selama menumpangi berbagai kendaraan umum, aku tak pernah memikirkan risiko kecelakaan. Seluruh kepercayaan aku serahkan kepada sang pengemudi. Tiba-tiba pikiranku membumbung menghayalkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika angkot ini mengalami kecelakaan. Kutatap wajah pak sopir di sebelahku. Mata tuanya fokus pada jalanan, ia terlihat begitu tenang dalam berkendara. Ah, sepertinya aku akan aman.

“Angkot sepi ya, Pak. Penumpang pada ke mana ya?” tanyaku sambil melihat suasana jalanan yang cukup ramai saat itu.

“Penumpang itu ya harus ditarik, Mbak. Ditarik pake teriakan. Saya sudah tua, berdiri saja terkadang susah apalagi harus teriak-teriak.”

“Jadi kenapa Bapak masih terus ngangkot?” kini pandanganku beralih pada tubuh ringkih bapak itu.

“Kalau tidak begitu, saya mau dapat uang dari mana, Mbak? Tidak ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan. Saya cuman bisa menarik angkot.” Ia kembali menjawab dengan sabar.

Advertisements