Cerpen Ramajani Sinaga (Analisa, 21 Juli 2019)

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana ilustrasi Toni B - Analisaw.jpg
Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana ilustrasi Toni B/Analisa 

Pernah lihat cewek nangis? Aku pernah. Baru saja aku lihat cewek nangis di sudut sekolah. Tempat yang sangat bau pesing. Aku melihat dia menangis di sana, memegang ujung rok.

“Kenapa nangis di situ? Bau pesing di sana! Mau saya kasih tahu tempat nangis paling enak di dunia? Dijamin, pasti makin enak nangisnya,” kataku.

Aku yakin seratus persen dia pasti mendengar ucapanku. Tapi, dia tidak menjawab sama sekali. Kalau sampai kedapatan Sir Hans, guru bahasa Inggris yang suka cerita jin, aku pastikan dia tidak bakal selamat dunia akhirat. Apa pun alasannya, mau datang bulan atau datang meteor sekalipun, kecuali dia bisa merayu guru bahasa Inggris itu dengan cerita-cerita jin.

“Di sana ada pohon rindang yang enak buat nangis. Mau nangis di sana?”

Cewek itu mengangkat dagu dan menatapku tajam seakan dia akan berubah menjadi medusa, perempuan berambut ular dalam cerita-cerita Yunani kuno. Dari matanya yang merah, aku yakin dia sudah menangis lama sekali. Bisa saja sehabis upacara bendera tadi dia langsung ke sini dan menangis. Dia? Dia adalah sahabat pacarku. Namanya Rhizoma.

Rhizoma? Aku yakin bisa menyebut namanya waktu pelajaran Biologi. Kali ini Rhizoma berdiri. Menatapku dengan muka menantang.

“Tahu apa kau tentang masalahku!” kemudian dia pergi.

Aku terpana. Tidak pernah kulihat Rhizoma sampai marah begini. Sekalipun kami memanggilnya hei, akar-akaran! atau hai, materi biologi, kenapa harus namanya Rhizoma. Kenapa tidak perkawinan saja! Tapi kali ini, ia benar-benar menangis. Aku tidak yakin ia menangis hanya karena kegagalannya. Ia kalah lomba menulis cerita pendek. Yang mengalahkannya adalah sahabatnya sendiri, pacarku, Marsha.

***

Aku berjalan di koridor sekolah dan Marsha tampak berjalan di ujung koridor.

“Selamat, Sang Juara Cerpen,” kataku.

“Sama-sama, Sang Juara Melukis,” jawabnya tersenyum.

“Eh, tunggu, sahabat kamu tadi nangis di belakang sekolah. Di samping lab IPA.”

Marsha diam membisu.

“Marsha…”