Sejak tadi saya juga sudah mengamati Rayna Kumala, tapi tetap saja volume suara Rani menciptakan sensasi mendebarkan tersendiri bagi saya. Di bawah pohon itu, Rayna Kumala berjongkok dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kresek hitam yang ia bawa. Ia menengok ke kanan-kiri dan sepertinya tidak menyadari bahwa kami bisa menyaksikan apa yang sedang dilakukannya.

“Ia mengeluarkan martil,” seru Rani.

Saya melihat Rayna Kumala mengeluarkan martil berukuran besar.

“Dan… oh, tidak, ia mengeluarkan seekor kelinci,” sambung Rani sambil membekap mulutnya.

Saya melihat Rayna Kumala mengeluarkan seekor kelinci mungil berwarna abu-abu.

“Dan…” Belum sempat menuntaskan kata-katanya, Rani jatuh pingsan.

Biar saya ceritakan: bersamaan dengan pingsannya Rani, Rayna Kumala menghantamkan martil ke kepala kelinci malang itu. Ia memukulkan martilnya berkali-kali dan saya rasa kepala kelinci itu pastilah seremuk mobil yang ketiban empat tiang listrik sekaligus.

Setelah siuman, Rani melarang saya untuk membicarakan soal Rayna Kumala.

***

Cerita ketiga sekaligus terakhir terjadi belum lama ini. Sekitar sebelas atau dua belas hari silam. Waktu itu Minggu pagi yang cerah. Saya memutuskan untuk jogging keliling kompleks. Tidak lama, kegiatan jogging tersebut hanya berlangsung kurang-lebih dua puluh lima menit. Saya rehat sejenak di pos kompleks yang saat itu kosong melompong. Saya menenggak air putih, mengelap keringat, dan menghitung jumlah burung gereja yang menemplok di tiang-tiang sejauh mata memandang. Satu, dua, tiga, empat… empat burung. Dari arah bertenggernya burung keempat, muncullah seorang perempuan yang sudah tak asing bagi saya. Perempuan itu berjalan kaku seperti robot. Namun, langkahnya cepat dan tiba-tiba saja ia sudah berada di dekat saya. Perempuan itu adalah Rayna Kumala. Perempuan itu adalah Rayna Kumala dan ia menggenggam seekor marmut. Perempuan itu adalah Rayna Kumala dan ia menggenggam seekor marmut yang kepalanya putus! Dan mulut Rayna Kumala penuh bercak merah.

“Oh, Rayna, apa yang baru saja kaulakukan terhadap hewan kecil itu?”

“Aku habis bermain-main dengannya. Ya, bermain-main,” katanya seraya menyeringai. Gigi-giginya memerah dan terselipi bulu-bulu halus. Pada saat itu, saya seolah bukan tengah melihat Rayna Kumala, melainkan seorang hantu yang asing dan mengerikan.