Cerpen Win Han (Koran Tempo, 20-21 Juli 2019)

Rayna Kumala ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempow.jpg
Rayna Kumala ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Saya tidak memiliki teman yang suka membunuh hewan-hewan lucu kecuali Rayna Kumala. Perempuan bertampang mirip artis drama Korea itu sama sekali tak kelihatan punya bakat berbuat bengis. Orang-orang yang tidak cukup mengenalnya akan mengira ia sebaik putri raja atau pemeran protagonis dalam sinetron-sinetron di televisi. Tentu saja mereka keliru-semua orang yang hanya mengenal sepintas perihal orang lain selalu keliru. Rayna Kumala, meski bukan perempuan jahat, jelas punya masalah di dalam otaknya.

Berkali-kali saya menanyakan kepadanya, “Sementara orang-orang di media sosial memamerkan foto kucing, kelinci, dan marmut, mengapa kau malah membunuh mereka?” Ia mempertontonkan senyum kecil, serekah senyum yang justru memperkuat tampang baik-baik dan cantiknya. Tapi, hanya itu. Ia tak lantas memberi jawaban yang membuat rasa penasaran saya sirna. Paling jauh, jawaban yang ia sodorkan hanyalah, “Kujelaskan pun kau tak akan mengerti.” Sial betul. Bagaimana bisa saya mengerti kalau ia tak pernah mengatakannya?

Saya sudah berusaha berulang-ulang menanyakan perihal itu kepadanya dan selalu gagal memperoleh jawaban memuaskan. Oleh karena itu, lebih baik saya menceritakan bagian-bagian lain saja, yang barangkali bisa membuatmu atau siapa saja yang membaca cerita ini terbantu untuk memahami tingkah ganjil Rayna Kumala.

***

Pada sore berhujan lebat itu, saya berteduh di depan sebuah rumah kosong beratap lebar. Saya berteduh sekira hampir satu jam. Tentu saja sepanjang waktu itu saya tidak hanya diam sambil memperhatikan tetes-tetes hujan dan berencana membikin puisi romantis. Tidak. Saya membuka ponsel, melihat-lihat kiriman terbaru orang-orang yang saya ikuti di Instagram, membalas pesan-pesan, dan memandangi pemandangan sekitar.

Rumah kosong itu berada persis di depan sebuah rumah berdinding merah muda yang kelihatan mencolok karena warna catnya yang berbeda dibanding rumah-rumah lain di seputaran daerah tersebut. Rumah itu adalah rumah Rayna Kumala dan pada saat itulah pertama kali saya bergidik ngeri dengan kelakuannya.