Cerpen Sumiati Al Yasmine (Analisa, 17 Juli 2019)

Biarkan Aku Pulang Bersama Tuhan ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
Biarkan Aku Pulang Bersama Tuhan ilustrasi Alwi/Analisa

Di antara hingar bingar malam ini, binatang jalang itu tak pernah berhenti berkicau sekalipun malam telah redup menjadi gulita, gagak hitam sialan itu tetap setia berteriak-teriak nyalang memamerkan suara paraunya di perbatasan pepohonan tengkawang, adakalanya suaranya berdegub merintih penuh misteri, membuatku terbawa pada alunan sunyi yang mencekam, kurasakan waktu tanpa segan hendak merebut milikku yang paling istimewa, aku duduk terdiam menghadap ke jendela kamar yang terbuka, sesekali gagak hitam itu mengepakkan sayapnya dan nangkring di reranting yang rendah, semakin ia mengepakkan sayapnya dengan lincah semakin suara kicauannya meradang dan bergemuruh, gagak hitam itu bertambah liar mengelilingi pucuk-pucuk dedaunan tengkawang, bedebah! Suaranya kian mengusik ketenanganku, aku tak berhenti menggerutu, dengan cepat kututup kain gorden jendela kamarku, sepertinya burung itu jelmaan iblis, dengan tajam ia menatapku seakan hendak menyerangku, malang nian, malam ini aku tidak bisa tidur dengan tenang.

Pagi yang begitu menyebalkan buatku, suntuk, aku kurang tidur, burung persetan itu adalah penyebab utamanya. Kulalui pagiku dengan nuansa hati yang buruk, ditambah lagi ada adegan yang tak kusukai, aku benci setengah mati jika yang menyiapkan sarapan adalah Nania, perempuan yang harus kupanggil ibu atas perintah ayah, bersumpah demi apa pun, aku tak akan pernah memanggilnya ibu, yang kutahu di dunia ini aku hanya punya satu ibu, yakni Ayana, dialah ibuku satu-satunya, perempuan sederhana yang akan kucintai tanpa pernah ada habisnya. Kasihan ibu cintanya harus terbagi dengan perempuan laknat yang tengah berdiri di hadapanku saat ini. Selain Nania yang kubenci ada seorang manusia lagi yang kubenci, bahkan aku ingin menelannya bulat-bulat, ia tak lain adalah Fans, anak terkutuk yang terlahir dari skandal perselingkuhan ayah dan Nania si perempuan setan, ia dan anak lelakinya telah berhasil mencuri kesempurnaan kebahagiaanku di rumah ini.

Fans selalu mendapatkan apa yang menjadi hak dan milikku secara utuh, kasih sayang ayah, cinta dan perhatiannya telah terbagi, ketika masih anak-anak, aku bahkan ingin menjatuhkan Fans dari atas loteng saat ia tak berhenti mengikutiku bermain, aku ingin sekali mencekik lehernya ketika aku mengetahui bahwa ayah membelikan mainan robot-robotan yang sama dengan yang aku miliku untuk Fans, saking marahnya kepada ayah, aku ingin sekali memberontak, lantas kulampiaskan kemarahanku dengan meninggalkan Fans sendirian di wahana permainan rumah hantu, melihatnya menangis ketakutan aku teramat bahagia. Ayah tak adil, kasih sayangnya kepada Fans sama besarnya kepadaku.