Cerpen Nien Saschi (Rakyat Sultra, 16 Juli 2019)

Emerald ilustrasi Istimewa.jpg
Emerald ilustrasi Istimewa

Sudut kamar terasa sepi, hanya selembar tirai yang perlahan tertiup ke sana ke mari dalam bingkai kayu bercat putih. Kuperhatikan kaki gadis yang mulai remaja itu yang perlahan mengangkatku, memperhatikan detailku sembari mengelus lembut. Senyumnya manis, seperti pertama aku melihat senyum seorang yang membawaku pulang ke rumah dan menempatkanku di rak pakaian paling atas.

Sudah seminggu aku di sini, di tempat ini yang mereka sebut ‘rumah’. Seorang ibu muda telah membawaku pulang hanya beberapa menit setelah bapak berkumis tipis memajangku pada sebuah etalase toko di pertigaan jalan dekat halte. Sebenarnya aku cukup beruntung, bagiku berlama-lama di rumah lama akan membuatku seperti tontonan yang tidak jelas nasibnya. Apakah karena warnaku yang mencolok hingga si ibu muda memilihku? Entahlah….Karena aku sudah kenyang dengan tuduhan ringan tentang warnaku.

Terkadang kuperhatikan juga beberapa gadis-gadis kecil berseragam sekolah singgah cukup lama berdiri memandangiku sambil berbisik satu sama lain hanya untuk memberiku harapan. Mereka membicarakan aku? Aku tak tahu. Yang pasti mereka takkan membahas tentang modelku yang standar, mungkin mereka lebih fokus ke warnaku yang bukan coklat, bukan pula oranye. Tetapi aku cukup beruntung, pada seperempat senja hari itu, si ibu muda mendatangiku tanpa ragu, tanpa harapan palsu. Membelaiku lembut, memantaskan aku di cermin seolah berkata ‹kamu milikku›. Dan ia menamaiku Koral, si lembut yang berwarna ambigu.

Sekarang aku sudah di depan seorang gadis remaja, Aku telah berganti pemilik. Rupanya aku adalah kado ulang tahun dari ibu untuk anaknya. Aku bahagia, seistimewa itukah? Sedang di rumah lamaku, aku tak lebih dari sebuah kain yang terpajang di pojokan tanpa kaca, tanpa manekin, hanya sebuah gantungan kayu dan beberapa helai kain lainnya yang bermodel serupa. Aku terharu, terima kasih, ibu muda.

Gadis remaja itu mulai berjalan gontai, memakai sepatu balet dan tas bulat dari bahan rotan. Ia seolah memamerkan keberadaanku di tengah hingar bingar jalan dan celoteh anak remaja lainnya yang sedang menghabiskan sore di alun-alun kota. Bukan salahku untuk dipamerkan, mungkin karena warnaku yang menarik perhatian. Bukan pula aku si besar kepala, hanya saja pesonaku memang luar biasa. Itu pikirku!

Advertisements