Cerpen Wayan Widiastama (Denpost, 14 Juli 2019)

Perempuan Buruk Rupa di Bawah Pohon Beringin ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Perempuan Buruk Rupa di Bawah Pohon Beringin ilustrasi Mustapa/Denpost

SAAT purnama bersinar terang. Menyeruak di antara pepohonan rindang. Perempuan buruk rupa itu akan duduk bersila di bawah pohon beringin. Dia akan membuka kerudung  lalu membasuh mukanya yang dipenuhi borok dalam tetesan air yang mengalir di akar beringin itu. Dia akan membiarkan matanya yang buta sebelah dicerca tetesan air. Lalu ia akan minum air dari akar beringin raksasa itu. Air itu akan menyeruak di antara giginya yang berserakan tidak rapi. Ia menyelesaikan ritual itu. Lalu perempuan itu duduk bersila di atas batu di bawah rindangnya pohon beringin. Tangannya menengadah. Sehelai daun beringin akan melayang dan mendarat di tangan perempuan itu. Daun itu akan berubah menjadi buah anggur yang segar. Saat purnama lain daun beringin yang jatuh di atas tangan perempuan buruk rupa bisa berubah menjadi makanan enak. Sate kambing, sate ayam, nasi goreng udang bakar. Dalam purnama berikutnya daun itu berubah menjadi boneka.

“Boneka?”

“Boneka beruang?”

“Boneka lumba-lumba?”

Bocah yang duduk melingkar di depan si pencerita mulai bertanya. Si pencerita melempar senyumnya.

“Bagaiman warna boneka itu, Nek?”

“Ada boneka harimau? Harimau dengan kulitnya yang loreng dan taringnya yang tajam.” Bocah lelaki berambut keriting melontarkan tanya penuh semangat.

Si pencerita itu adalah Nenek Soma. Nenek Soma perempuan sebatangkara. Tak punya suami atau anak. Perempuan 70 tahun yang setiap senja datang akan dikerumuni bocah-bocah di kampungnya. Bocah-bocah itu akan mendengarkan cerita yang disampaikan Nenek Soma.

“Jadi perempuan itu sudah punya banyak boneka ya, Nek?”

“Di mana pohon beringin raksasa itu, Nek? Aku ingin ke sana. Aku ingin minta agar daunnya mau berubah menjadi sepeda gayung. Aku ingin naik sepeda ke sekolah. Nanti aku akan bonceng Si Putri ke sekolah.”  Banyak lagi tanya keluar dari bibir-bibir mungil bocah-bocah itu. Putri, bocah paling bongsor tersipu mendengar perkataan teman lelakinya.

Advertisements