Cerpen Eriyandi Budiman (Tribun Jabar, 14 Juli 2019)

Penjara yang Diposting ke Otak Bang Kronis ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Penjara yang Diposting ke Otak Bang Kronis ilustrasi Tribun Jabar

SEPEDA motor pujaanya itu, mungkin, sebentar lagi akan raib. Para debt collector sudah menjadi lebah. Menyengatnya dengan kalimat-kalimat hingga paragraf yang tidak puitis. Daya cicilnya yang macet membuat teleponnya penuh ancaman dengan pesan yang tak bertuan jika ditelepon balik. Mereka mulai menggunakan cara rentenir online rupanya. Usaha Bang Kronis memang tiba-tiba macet. Temannya yang dikirim barang pesanan mengaku sudah membayar kepada istrinya, kemudian raib bersama rumput yang tidak bergoyang. Teman lainnya yang mengambil barang dan uang belanja bahan baku juga hilang bersama malam-malam yang harus dilupakan.

Sekarang, untuk makan pun hanya ada angin. Ingatannya terbelah. Ia telah rela menyerahkan sepeda motor yang telah menemaninya selama satu tahun itu. Di punggungnya, telah ribuan kilometer digerus untuk bertahan hidup. Tapi nasib berkata lain.

Kini Bang Kronis menjadi mayat yang belum terdaftar di pemakaman. Itulah sebabnya ia akan mencoba bertahan hidup dengan cara lain. Maka bergegas ia ke rumah Pak RT.

“Iman saya masih berkibar, sebagaimana Merah Putih di jantung saya, Pak RT. Saya tidak mau berbuat kejahatan. Itulah sebabnya, saya lebih baik masuk penjara saja. Minimal, di sana saya bisa makan!”

“Walaupun harus menggali dan memanggul batu?”

“Walaupun harus begitu!”

“Walaupun harus membuat keset Welcome?”

“Saya akan welcome juga, Pak RT!”

“Walaupun tidur berdesakan, bergelut dengan tikus dan nyamuk, makan kangkung di piring berkarat, dan antre berjam-jam di toilet?”

“Ya… salah satu dan sekian hal itu pernah saya alami. Jadi saya sudah punya persiapan, bukan?”

“Ok. Saya hanya bisa memberi surat keterangan tidak mampu. Ini sudah saya tandatangani. Nanti tinggal menembus Pak RW dan Pak Kades!”

Setelah menyantap nasi goreng plus goreng belalang yang disuguhkan Pak RT, Bang Kronis menemui Pak RW.