Cerpen Chandra Buana (Suara Merdeka, 14 Juli 2019)

Pemakaman Baru ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.jpg
Pemakaman Baru ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera menguburnya.”

“Aku tak punya uang.”

“Tapi kau masih punya potongan harga untuk penguburan ibumu.”

“Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Aku tak punya uang. Biarlah dia diam di sini barang semalam atau dua malam. Sebaiknya kau cepat pergi.”

Pria tua itu lantas pergi tanpa sepatah kata pun. Pintu menjadi lampiasan amarahnya. Anak muda itu bergeming. Matanya tertuju ke televisi, tetapi pikiran melayang entah ke mana.

Rusman bangkit dari sofa buluk setelah beberapa jam melamun. Dia ingin minum. Ketika hendak ke dapur, dia melewati kamar ibunya. Berhenti dia di depan pintu, memandang sang ibu yang terbujur kaku, tanpa ekspresi. Lantas dia pergi mengambil gelas. Bunyi air yang Rusman tuang memecah keheningan. Jam sudah lama mati. Burung peliharaan bapaknya mati. Ikan mati. Semua mati. Hanya tersisa dia dan televisi. Bapaknya sudah mati seminggu lalu. Untuk itu dia mendapatkan potongan harga jika ingin menguburkan ibunya. Potongan setengah harga diberikan apabila ada anggota keluarga lain mati dan belum genap 40 hari.

Semenjak ada pemakaman berbayar di kampung ini, banyak orang mati. Hewan-hewan pun mati. Ada dua jenis kuburan di pemakaman itu; untuk manusia dan hewan. Biaya untuk kuburan hewan lebih murah karena ukuran hewan jauh lebih kecil.

Mau tidak mau warga kampung harus menguburkan anggota keluarganya karena lahan pemakaman umum sudah dibeli pengusaha kondang. Kuburan lama digusur. Jika ingin memindahkan kuburan ke tempat baru pun ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan anggota keluarga yang masih hidup.

Pemakaman hewan belum terlalu banyak diminati warga kampung. Jika ada hewan mati, mereka memilih membiarkan hingga membusuk. Pemakaman hewan hanya diminati orang-orang dari luar kampung. Biasanya kucing atau anjing. Selebihnya, pemakaman itu masih kosong.