Cerpen Salman Rusydie Anwar (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2019)

Pekerjaan Terakhir Bapak ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw
Pekerjaan Terakhir Bapak ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SETELAH kepergian Ibu, Bapak bersumpah untuk tidak menikah lagi. Ia berjanji bahwa hidupnya akan dihabiskan bersamaku, ingin melihatku tumbuh sampai aku berkeluarga dan memberinya cucu. Aku percaya dengan semua ucapannya. Bagiku Bapak adalah tipe suami yang sangat setia.

Bapak berhasil membuktikan bahwa cintanya memang hanya untuk mendiang ibu, meskipun dulu banyak sekali gosip yang menyebut Bapak main mata dengan teman sekerjanya. Mungkin itulah alasan Bapak mengajak Ibu untuk ikut bekerja bersamanya. Barangkali Bapak ingin membuktikan sendiri kepada Ibu bahwa gosip itu sama sekali tidak benar.

Aku senang dulu Bapak dan Ibu bekerja bersama sampai kemudian Ibu meninggal. Setidaknya tuduhan kalau Bapak main serong itu tetap tidak terbukti. Dua minggu yang lalu, Bapak keluar dari pekerjaannya sebagai kasir toko pakaian. Ia kemudian mendaftar jadi sopir travel justru pada saat toko pakaian tempat ia bekerja sedang majumajunya.

“Akan sangat sulit menemukan pegawai jujur dan ulet yang dapat menggantikan Bapakmu ini,” begitulah nada keberatan yang disampaikan Pak Ijon, pemilik toko itu kepadaku saat aku dan Bapak menghadap beliau untuk pamit. Aku sendiri tidak paham alasan Bapak keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama berpuluh-puluh tahun itu. Setiapkali aku bertanya, jawaban Bapak selalu sama; ingin mencari pengalaman baru.

“Lastri, kalau kamu bekerja hanya itu-itu saja, kamu memang dapat uang tapi tidak dapat pengalaman. Tuhan sudah katakan, setelah kita ibadah, kita diminta bertebaran di muka bumi agar manusia bekerja sekaligus mencari pengalaman,” kata Bapak suatu malam.

“Tapi Bapak akan kerja apa untuk dapat keduanya?” tanyaku.

“Bapak sudah daftar jadi sopir travel. Besok Bapak sudah mulai masuk kerja dan diminta mengantar penumpang ke Lampung. Bapak tidak hanya dapat uang dengan pekerjaan baru ini, tapi juga pengalaman. Ini pengalaman pertama Bapak ke luar Jawa.”

Aku terkejut dengan jawaban Bapak. Melihat kondisinya yang sudah tidak segagah dulu lagi, aku meragukan kemampuannya. Tetapi aku juga paham watak Bapak. Ketika sudah memutuskan sesuatu, tidak mudah mengubah pendiriannya.