Cerpen Agus Nurjaman (Pikiran Rakyat, 14 Juli 2019)

Menatap Jauh di Tempat Peristirahatan ilustrasi Fahrul Satria Nw
Menatap Jauh di Tempat Peristirahatan ilustrasi Fahrul Satria N/Pikiran Rakyat

MITA masih terduduk di pojok teras perpustakaan yang terletak di bagian belakang kompleks sekolah itu. Hari sudah mulai sore, daun-daun gemerisik seakan berbisik resah. Suaranya terdengar meringkik menahan tawa lepas. Sesekali terdengar seperti suara merintih di balik benteng sekolah yang menjulang kokoh.

MITA terkesiap mendengar suara itu, perlahan dia menolehkan pandang ke sumber suara, namun yang terlihat tetaplah tembok menjulang melembab dan menghijau karena lumut tumbuh subur di sana. Bulu kuduknya mulai merinding, duduknya gelisah dalam kesendiriannya. Tiara yang sedari tadi menemaninya beberapa saat izin untuk ke toilet namun sampai di penghujung penantian, Tiara belum juga kembali.

“Terus ke mana anak itu?” gumamnya seraya bangkit dari duduknya dan melihat arah jarum jam tangannya seakan memastikan waktu saat itu. Gemeretak ranting yang terjatuh ke bumi semakin terasa mistis. Lagi-lagi bulu kuduk Mita berdiri, rasa takut menghantui perasaannya. Suara rintihan itu kembali terdengar dari balik dinding tembok menjulang. Kokohnya dinding itu seakan tak sanggup meredam suara hingga terdengar nyaring menembus susunan bata merah berbalut semen tebal.

Tanpa pikir panjang, Mita segera menghambur ke dalam perpustakaan, namun langkahnya terhenti manakala melihat penjaga perpustakaan terduduk tanpa ekspresi. Pandangannya nanar, kosong tanpa sebuah keceriaan memandang sosok Mita dalam ketakutan. Tapi rautnya begitu datar tidak bersahabat.

“Pak, saya mau masuk untuk mencari buku!” ujar Mita seraya menghampiri meja tamu perpustakaan lantas meraih pulpen yang berada di atas meja itu.

“Tulis nama dan kelasnya!” ujar penjaga perpustakaan itu sambil menyodorkan buku tamu kepada Mita.

“Iya, Pak!” jawab Mita, pandangannya lekat tertuju pada pria setengah baya yang terduduk mematung di depannya.

Mita melangkah menyusuri lajur antara rak satu dan lainnya. Mita bermaksud mencari buku sastra untuk memenuhi tugas Bu Yanti, guru bahasa Indonesia. Namun sesaat Mita berbalik arah kembali ke meja tamu perpustakaan itu.

“Pak kalau buku sastra di rak berapa ya?” tanya Mita seraya menatap tajam pada pria tanpa ekspresi itu.

Advertisements