Cerpen Muhammad Nur Iskandar (Radar Banyuwangi, 14 Juli 2019)

Kegembiraan yang Berguguran ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Kegembiraan yang Berguguran ilustrasi Radar Banyuwangi

Sekelompok remaja belakangan ini menjelma sebuah teror. Mereka datang dengan tangan kosong. Namun, tak kalah menjengkelkan dibandingkan pencuri berdasi maupun yang kerap beredar saat tenggelamnya keramaian kota-kota. Masih saja samar pandangan mereka soal takaran dosa.

***

Sudah menjadi perbincangan warga tentang perihal kehilangan. Apa yang dianggap berharga, raib dari kawasan rumah pemiliknya, tepatnya yang berada di lokasi sekitar sekolahan. Tentu saja, sebenarnya itu ulah mereka: tiga sekawan. Gelagat mereka pun telah menggegerkan satu rumah ke rumah lainnya dalam kurun waktu dua tahun belakangan, tanpa mengisyaratkan mereka sebagai pelakunya.

Memang cerdik, aksi itu berlangsung sebulan dua kali. Mereka berpikir selang waktu dapat mengikis rasa kewaspadaan warga sebelum mereka melakukannya lagi di tempat yang berbeda. Terbukti, puluhan rumah dengan beragam apa saja telah takluk, sesuai keinginan kelompok ini.

Komplotan itu berkomposisi satu anak perempuan, Alina, serta dihiasi dua lelaki yang sehari-hari dipanggil Alan dan Aldo. Pertemanan telah mereka bangun sedari mereka belum menempuh pendidikan akademik. Bahkan sampai waktu sekarang, berada di tengah-tengah tingkatan siswa baru dan siswa yang paling dekat dengan kelulusan. Dipertemukan dalam ruang kelas yang sama selama dua tahun di jenjang SMP, membuat mereka saling terheran. Pasalnya, di luar kegiatan belajar pun kebersamaan selalu menyertai mereka. Ya, dalam suatu kebahagiaan yang sewajar versi mereka sendiri.

Alina memiliki kecerdasan yang melebihi kedua orang sahabatnya di ruang kelas. Gadis remaja berambut sepundak ini menyabet peringkat tiga besar setiap semester. Atas kenyataan ini, Alan dan Aldo sering kali meminta diajari soal rumus yang menurut mereka rumit dan seharusnya dihapuskan dari kurikulum pembelajaran.

Tetapi jalinan kerja sama untuk hal baik itu tidak terjadi di luar lingkup sekolah. Dalam aksinya, Alina menjelma bak juru taktik: memberi pengarahan kepada kedua temannya sebelum bagi-bagi tugas. Meski tindakan yang ia biasakan tidak umumnya dilakukan oleh sejenisnya, ia tetaplah seorang perempuan biasa. Bahkan di usianya ini, Alina sudah menyimpan rasa suka terhadap lawan jenis.

Advertisements