Cerpen Diego Alpadani (Singgalang, 14 Juli 2019)

Kado yang Membingungkan di Hari Ulang Tahunmu ilustrasi Singgalangw.jpg
Kado yang Membingungkan di Hari Ulang Tahunmu ilustrasi Singgalang

AKU yakin saat ini kau sangat kebingungan. Tentu kau bertanya-tanya, bagaimana cara mem buka kado ulang tahun yang terkhusus kuberikan untukmu. Dan aku juga yakin, kau sedang berada di kamar menatap kado yang kukirim lewat jasa pengantaran barang. Kau menatap kado itu dengan cermat. Selalu mencoba membuka. Namun, kenihilan yang kau dapat. Tidak bisa dibuka. Sudahlah. Tak perlu berkecil hati. Itu kado, memang dan terkhusus untukmu.

Apakah kau pernah mendengar seseorang menyebut, baja murni? Jika pernah, kau tak perlu membayangkan bagai mana bentuk baja murni tersebut. Jelas kado yang ada di depanmu itu jauh lebih kuat, kokoh dari baja murni. Atau kau pernah mendengar, betapa sulitnya mencari mutiara di kedalaman lautan yang kapan saja laut bisa membunuh si pencari mutiara. Santai. Kado itu tidak berisikan mutiara. Apalagi mutiara yang harganya dapat membeli satu pulau. Sangat tak sepadan rasanya. Satu mutiara kecil bisa membeli satu pulau yang cukup besar. Tapi memang apa yang sulit didapatkan, akan bernilai mahal. Namun, tidak selalu seperti itu. Terkadang nilai guna sangat dipentingkan. Bukankah padi memiliki nilai guna yang sangat? Bayangkan saja jika untuk mencari sebutir padi seperti mencari mutiara. Ah, sudahlah. Jangan dibayangkan. Bisa meninggal aku dibuatnya. Jika kau terlanjur memba yangkan. Lanjutkan. Bermainlah dengan pikiranmu. Teruskanlah imajinasimu itu.

Sewaktu aku memgi rimkan kado ulang tahunmu itu ke jasa pengiriman barang. Aku diintrogasi. Banyak tanya yang dilepas oleh para petugas. Jelaslah banyak tanya dari petugas. Kado yang kuberikan untukmu tidak bisa ditembus oleh sinar ultra violet. Apa isi dari kado itu hanya aku yang tahu. Tenanglah. Kau juga akan tahu isinya. Hanya kau dan aku yang mengetahui kado itu. Bahkan dari Tuhan pun selalu aku sembunyikan. Sebenarnya aku yakin, bahwa Tuhan sudah tahu isi dari kado yang kuberikan untukmu. Karena kado itu sebenarnya dari Tuhan. Bukankah semua yang kita miliki di atas dunia ini hanyalah pemberian Tuhan. Bahkan, para alim mengatakan, semua yang kita punya hanyalah titipan dari Tuhan. Tuhan berhak mengambil titipan itu kapan saja dan di mana saja. Dalam kondisi seperti apa pun Tuhan berhak mengambil itu semua. Terkadang aku membayangkan, bagaima na jika seorang atheis mempercayai hal ini. Sebenarnya lucu, percaya terhadap ketidakper cayaan. Rasanya aku mulai bertela-tele.