Cerpen M. Rosyid H.W. (Jawa Pos, 14 Juli 2019)

Janji Kelud untuk Bapak ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Janji Kelud untuk Bapak ilustrasi Budiono/Jawa Pos

FEBRUARI 1990. Malam menjelang. Hawa panas menyeruak. Kentong langgar bertalu-talu.

Di mbale [1] rumah, puluhan warga telah berkumpul. Duduk berjejal-jejal, beralas daun kelapa. Mereka percaya rumah pertama di pedukuhan ini laksana benteng kukuh karena tak roboh digempur abu gunung bertahun-tahun. Di langit-langit rumah, empat lonjor besi dari rel kereta pengangkut tebu mempertebal keyakinan mereka. Begitu juga empat pilar kayu jati yang mengikis ketakutan mereka.

Suasana masih sepi dan hening. Sesekali, garis merah mengiris langit di ufuk timur. Belum ada degup dentum ledakan, kecuali degup-detak resah yang meledak di balik dada setiap orang.

Listrik padam. Pijar lilin di setiap penjuru lebih mencekam dari gelap gulita. Sebab, ia mengiris raut wajah dalam gurat kekhawatiran. Semakin ditatap, takut semakin semerbak. Bapak, dengan sebulir tetes mengalir di pelipis, bersuara lirih agar handai taulan tak henti-henti membaca salawat dan meminta ampunan kepada Tuhan.

“Aaaaaargh!”

Tiba-tiba Anam, adik sepupuku, berteriak. Mata-mata terbelalak kaget. Jantung-jantung tertikam. Gemerisik celoteh berhamburan, tanya ada apa dan mengapa.

“Pipis,” ujarnya dengan tangis tertahan.

Terbit tawa dan cekikik kecil dari sekitar. Cubit kecil emaknya mendarat di pahanya. Sebongkah es khawatir meleleh perlahan di lubuk mereka, lalu tercekat di tenggorokan. Karena…

Braaaakk!!!

Sebongkah batu sebesar kepala menerjang genting dan terbentur tembok di pojok ruangan. Tubuh-tubuh kembali beringsut. Langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi. Gaduh. Pecahan genting dan bebatuan sekepal tangan meluncur laksana perang tombak dan anak panah. Hujan pasir tak terhindarkan. Butir-butir debu merayap di atas atap, menerobos apa pun yang terlintas meski sekecil lubang semut, lalu bergemelitik di ujung telapak kaki. Terasa kasar, saat kuinjak.