Cerpen Wiji Lestari (Republika, 14 Juli 2019)

Diskusi Mata Hijau ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Diskusi Mata Hijau ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Kopinya telah dingin ketika tamu berjubah silver datang secepat kedip mata duduk menghadapinya. Tudung berkilau oleh limpahan sorot lampu warung kopi makin mengaburkan paras wajah, hanya sepasang matanya sepintas tampak berkilat, kehijauan.

Ia sunggingkan senyum datar. Senyawa aneh merambat. Sejuk tiba-tiba lengkap memenuh ruang.

“Aku tidak mau mati dengan cara itu,” ia mulai bersuara. Gelas kopi ia putar-putar pelan, seakan mengikuti irama detik jam dinding tua yang berderak letih.

“Sudah jalanmu.” Tamunya menjawab. Tidak lewat lisan, namun getar frekuensi kalimat itu bergaung di kepalanya.

“Tidak mau!”

Hening.

“Kalian memang tidak mengerti, semua itu akan melukai hati keluargaku, calon istriku!”

Tamunya diam.

“Semua misteri kehidupan ini makin membuatku ragu pada esensi makhluk macam kalian.”

“Kau yang tidak mengerti, waktumu telah tiba, tapi masih saja tidak bisa lepas dari keakuan. Padahal, semesta terus mengingatkanmu bahwa semua fana akan binasa.”

Derak jam tua mengisi keheningan. Berbagai pleidoi mencuat keluar dari benaknya, protes panjang pada langit tentang jalan hidupnya yang nyaris selalu tertatih, selalu tersuruk-suruk tanpa pernah bisa mengejar ketinggalan. Sampai ketika mata ketiganya terbuka, dan ia melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Memaknai kesempatan dengan ganjil, dan melihat orang-orang di sekitarnya tidak lagi ber wujud manusia. Kadang di matanya, seseorang terlihat bertanduk, ada yang berkepala kelamin, ada yang berkepala ular, ada yang dadanya ditumbuhi rumput liar, sering pula ia lihat orang berkepala masjid berdada sajadah. Di atas semua, ia selalu gelisah melihat jumlah napas mereka yang terus berkurang dari embus ke embus berikutnya. Menjadi lebih ngeri ketika ia melihat jumlah napasnya sendiri.