Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 14 Juli 2019)

Darah ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Darah ilustrasi Serambi Indonesia

SETELAH berada di gua selama 1000 tahun, lelaki itu bangkit dari tidur panjang dengan rasa haus tak terbendung. Ia melepaskan ikatan di tangannya dari sisa-sisa perak yang berkarat dan rapuh. Cahaya menyingsing dari pintu gua. Aroma lembab dari stalaktit dan stalagmit meneteskan air dari ujung-ujungnya yang runcing. Ia menggerak-gerakkan badannya yang kaku, lantaran terlalu lama tubuhnya terkekang dan tak sedikit pun bisa bergerak. Lengan kirinya terpelintir seperti copot dari rongga yang menopang otot bahu. Dengan sekali putar, bunyi krak menyatukan otot di bahu dan membuat ia bisa dengan mudah memutar-mutar lengannya.

Dalam gelap, matanya mampu melihat segalanya. Sebagai makhluk abadi, ia tidak punya keleluasaan untuk merasakan matahari, kecuali ingin terbakar dan mati menjadi abu.

“Keparat! Ke mana kau pelayan!”

Seonggok makhluk yang menempel di dinding gua berusaha melepaskan diri dari kulit dan daging yang telah menyatu dengan batu.

“Ternyata Tuan sudah bangun.” Gerak si pelayan dengan dua tanduk panjang begitu pelan lantaran sekian lama ikut tertidur bersama tuannya. Ototnya jadi kaku dan perlu waktu untuk terbiasa.

“Tuan Count Vladislaus Dracula!”

“Aaaahh! Tak usah kau panggil nama panjangku. Singkat saja.”

“Tuan CVD!”

“Apa itu?”

“Nama singkat Tuan.”

Bangai! Bukan sesingkat itu. Draco. Biar keren. Kita sekarang ada di era modern.”

“Bagaimana Tuan tahu?”

“Pasang hidung dan telinga!”

Si pelayan mencari-cari hidung dan telinganya. Rupanya masih menempel di dinding gua. Ia mencopot anggota badannya seperti lintah yang menempel di tubuh sapi. Benar saja, ia mencium bau asing. Aroma makanan yang meluber. Bangunan-bangunan baru dengan bau cat. Sedang di kuping, bunyi klakson, tabrakan, tawa, canda, tangis, dan seluruh tetek-bengek kepurbaan telah terganti dengan nuansa baru.