Cerpen Lula Arimbi (Fajar, 14 Juli 2019)

Dalam Tubuh Mantra Senja ilustrasi Rizal - Fajarw.jpg
Dalam Tubuh Mantra Senja ilustrasi Rizal/Fajar 

Ihwal kedatangannya mungkin sebuah jawaban dari puncak permohonanku. Tiga puluh menit yang lalu. Saat itu aku merasa sedang sekarat.

“Ada mantra dalam tubuhmu.”

Kalimat itu terdengar sedikit horor. Seketika jantungku berdegup kencang dalam kondisi tubuh yang sangat lemah. Aku berharap bahwa aku tidak percaya padanya. Tapi aku merasa cemas mendengarnya. Aku memaksakan diri berpaling padanya yang duduk bersila di sampingku. Aroma rokok tercium dari embusan napasnya. Aku merasa mual dan hampir memuntahkan air yang memenuhi lambungku. Sudah lama aku tak melihatnya. Sanro paruh baya yang pernah memberiku sebuah mantra demi menarik kembali simpati kekasihku yang selingkuh dengan teman sekantornya, tujuh tahun lalu. Hanya saja mantra itu tidak pernah kugunakan sama sekali. Setelah berhari-hari mengendap dalam laci meja, mantra yang kutulis di atas secarik kertas itu akhirnya kubakar bersama tumpukan sampah kering lainnya. Hatiku sakit saat itu, tapi kubiarkan saja lelaki itu pergi.

Tangannya masih di nadiku. Memastikan sesuatu yang lain sambil mengatupkan mata. Mungkin selain mantra yang baru saja disebutnya, ada pula parasit lain yang sedang bercokol dalam tubuhku. Ruangan mendadak sunyi. Seolah hanya ada kami berdua. Aku yang tenggelam memikirkan kalimatnya barusan dan dia yang sedang berkonsentrasi menerawang sesuatu dengan memejamkan mata. Di sampingku, ada ibu yang tetap tangguh menyimpan tangisnya. Sementara ayah, aku hanya mendengar suara batuk-batuknya dari sudut ruangan.

“Apa maksud puang?” Suara lemasku memecah keheningan.

Ia tersenyum. “Saya kira kau paham maksudku.”

“Tapi aku tidak percaya hal semacam itu.”

“Kali ini kau harus percaya.”

Kupalingkan wajahku darinya. Menatap jari-jari kakiku yang sangat kurus dan pucat. “Ah, daging itu entah ke mana separuhnya pergi.”

“Lain kali jangan tidur saat senja. Kau telah membuka pintu untuknya masuk ke tubuhmu.”