Cerpen Kiki Sulistyo (Padang Ekspres, 14 Juli 2019)

Adras Si Penjahit ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Adras Si Penjahit ilustrasi Orta/Padang Ekspres

HARI sudah tinggi ketika Ayikaka sampai di rumah Adras Si Penjahit. Jubahnya yang kumal semakin kumal oleh debu perjalanan. Dia melewati padang terbuka yang kerontang dengan semak dan pohon-pohon kering masih berusaha tegak. Jubahnya berkibar-kibar menimbulkan bunyi kasar seakan hendak lepas dan membiarkan tubuhnya telanjang. Angin seperti berlari kencang lantaran tak ada daun yang menghalang. Menampar-nampar muka dan badan.

Semalam, para tetua telah memutuskan Ayikaka harus menemui Adras untuk meminta bantuan. Tugas yang tampak sederhana tapi nyaris tidak ada yang bersedia. Bukan apa-apa, mereka merasa malu karena dulu pernah menistakan Adras sebagai keturunan pembunuh dan mengusirnya dari desa. Hanya Ayikaka yang kemudian dengan senang hati menerima tugas itu.

“Tapi dia masih kecil. Bisakah dia bicara tanpa membuat kita tampak hina?” tanya seseorang. Orangorang yang lain diam saja. Tak tahu harus berkata apa. Tetua desa menghela napas berat, lalu berkata, “Jika ada yang bersedia menerima tugas ini, tentu bukan Ayikaka yang akan pergi. Tapi siapa? Apa yang kita perbuat di masa lalu telah menjadi belenggu, hingga kaki kita tak bisa melangkah dan penyakit kelu menjalar di lidah. Sekarang kita ditimpa bencana dan tak ada jalan lain kecuali menemuinya, ini petunjuk dari penguasa alam raya.” Ayikaka senang mendengar kata-kata itu. Sejak dulu, ketika Adras masih bermukim di desa, Ayikaka sudah merasa dekat dengannya. Sesungguhnya, itu masa yang tak terlalu lama, sebab dia masih bisa mengingat bagaimana lelaki itu menceritakan padanya kisah-kisah yang menakjubkan.

Ada sebuah tempat, kata Adras, yang memiliki keindahan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbersit dalam pikiran manusia. Orang-orang baik akan menuju ke sana, dan kata Adras lagi, kelak jika Ayikaka tumbuh menjadi orang baik, dia juga bisa datang ke tempat itu. Ayikaka membayangkan Adras berasal dari tempat itu, sebab Adras sungguh baik, juga pintar. Adras adalah orang paling pintar di desa. Selain menjahit ia juga tahu banyak ilmu. Ia bisa membaca dan menulis, ia bisa menunjukkan nama bintangbintang. Ia juga bisa memperkirakan musim. Memang ada penduduk desa yang bisa membaca bintang-bintang, sehingga dapat memperkirakan musim berladang. Tapi hanya sebatas itu. Sedangkan Adras tahu kapan saat yang baik dan tidak baik untuk bermacam-macam hal.

Advertisements