Dia menjemput akhir hidupnya dengan tenang. Seperti tak hendak menyusahkan siapa pun. Juga tidak istrinya. Dulu, sepulang dari gereja, juga saat di meja makan, mereka berdua acapkali seperti terlibat dalam pertaruhan. Siapa yang lebih dulu menghadap Tuhan. Namun, perdebatan tentang siapa yang lebih dulu menjemput ajal itu sudah tak bisa dilanjutkan lagi ketika sang istri terserang dimensia. Mantan guru itu sering berdiri di tepi meja makan, di seberang suaminya, dan layaknya sedang menghadapi murid di depan kelas, dia berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, Jepang, bercampur bahasa Batak. “Aku yang akan lebih dulu pulang menemui Dewata,” begitulah dia selalu menutup ocehannya.

“Ai sudah jadi patungku itu dibuat Si Raisa? Kapan mau dia tegakkan di makamku ini? Sudah dua tahun aku menunggu,” tanyanya seraya mengusap bahu istrinya.

“Tak pemah kutanya. Untuk apa?” jawab sang istri. “Seniman jangan didesak-desak, bisa mati daya khayalnya.” Tak terduga, tiba-tiba sang istri menjawab. Dan itulah kata-kata yang diucapkannva kepada suaminya begitu untuk pertama kali mereka bertemu di rumah penghabisan mereka itu, di kaki bukit, di tepi danau itu.

“Ah …”

Mengiang dalam ingatan sang istri bagaimana putri satu-satunya dari semua anaknya, hanya dialah yang bisa bertahan, paling menjulang, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Yang lain sempoyongan ingin menegakkan kembali perusahaan yang dibangun oleh sang ayah. Sia-sia. Mereka sangat tergantung pada sang ayah, seakan-akan tak mau lepas dari pangkuannya. Ketika pemerintah membukakan pasar kepada multinasional untuk beroperasi sampai ke desa-desa, perusahaan itu pun tumbang. Tinggal si Raisa satu-satunya yang bisa tegak sebagaimana patung yang selalu dia pahatkan, tatahkan sendirian.

“Apakah ada dikatakannya kepada kau, apa yang menjadi masalah sehingga patungku itu belum juga rampung? Padahal sudah dua tahun aku mati,” desak sang suami lagi.

“Bali …” sang istri nyaris kehilangan kesabaran. Untunglah dia sadar, dia baru saja terbaring satu liang dengan suaminya itu. “Janganlah dia didesak terus. Kasi dia kebebasan, sebagaimana orang-orang kaya yang memesan patung kepadanya. Ingat kau bagaimana dia menolak pembuatan sejumlah patung yang dipesan orang kaya dari Jalan Sudirman itu? Katanya, ruangannya tidak layak untuk disesaki patung sebanyak yang dipesan orang kaya itu. Keinginannya yang harus diikuti. Nilainya yang wajib dihormati. Seniman. Tak jadi pun tak masalah. Karena menumt dia, kalau jumlah patung yang dipesan diletakkan akan bertentangan dengan kesadaran akan ruang.