Cerpen Martin Aleida (Kompas, 14 Juli 2019)

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi Danau ilustrasi Aurora Arazzi - Kompas-1w.jpg
Malaikat ilustrasi Aurora Arazzi/Kompas 

Selepas latihan biola, hendak pulang, aku menunggu bus Transjakarta. Bangku termenung di halte dikuasai tukangojek. Melawan nyeri dari lutut yang kaku dan tak sudi ditekuk, aku duduk menyandar di pagar tembok. Aku sadar seorang perempuan berusia sekitar 50-an, mengenakan rok berwarna krem, duduk sekitar tiga meter di sampingku.

Di bawah temaram lampu listrik trotoar, sekilas kulihat kulit wajahnya yang coklat kusam. Kakinya mengapit sandal jepit. Jari dan mata kakinya lebam, seprrti penderita kusta yang sudah lama sembuh. Tidak sebagaimana perempuan biasa, tangannya kosong. Kekayaannya, kalaupun ada, dalam bayanganku, dia sembunyikan di dua saku bajunya.

Dari arah kejauhan terlihat bus mendekat, lampunya terus berkedip. Aku sontak berdiri, mendekap ransel, menyandang biola. Yang berhenti bus berukuran pendek. Sesak di dalam. Kecewa, aku mengingsut mundur. Melangkah hati-hati menghindari undakan trotoar. Aku kembali duduk sambil mengelon ransel. Biola kusandarkan ke tembok.

Tak lama kemudian, aku bangkit lagi dengan beban masa tuaku: ransel dam biola, yang sejak beberapa tahun aku bujuk supaya ramah pada jemari dan otakku yang, lantaran digerogoti usia, tentulah sudah mengecil. Susut membatu, kupikir. Tetapi, si biola begitu sombong. Begitu pelit kuajak untuk merayakan hidup. Aku, jauh dari ambisi menjadi parbiola, seperti kata orang Batak, yang ingin tampil dalam sebuah orkestra. Angan-anganku terdengar ganjil, memang. Namun, itulah kepercayaan yang muncul sebagai keyakinan di pengujung usiaku: selama jari-jari dan otak masih bisa bekerjasama dalam memainkan sebuah melodi, walaupun terdengar sumbang, maka selama itu pula siksa hidup yang bernama stroke takkan menyudahi indahnya hidup. Tak ada bukti. Yang ada hanyalah keyakinan, yang boleh jadi toh akan merebahkan aku di jalan yang sesat.

Aku bangkit lagi. Menyongsong lampu bus yang terus berkelap-kelip dan mendekat Sayang, lagi-lagi yang singgah bus berbadan pendek, dengan bangku-bangkunya yang tidak peduli pada lutut yang tak bisa kutekuk dengan sempurna. Kembali aku menyerahkan diri ke tembok. Melonjorkan kaki. Tiba-tiba perempuan di sebelahku tadi berdiri dekat bahuku.

“Ini, bawalah. Pergilah ke dokter,” ucapnya. Refleks, uluran tangannya tidak serta-merta kusambut. Kuucapkan terima kasih, dan kukatakan bahwa aku punya ongkos pulang yang cukup. Dia sodorkan lagi tangannya dengan uang yang tergulung di dalamnya. Dalam remang cahaya, kulihat dia bolak-balik memperhatikan kaki dan wajahku, seakan-akan dia sedang menebak isi pikiranku.