Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 13-14 Juni 2019)

Namaku (Bukan) Tamae ilustrasi Koran Tempow.jpg
Namaku (Bukan) Tamae ilustrasi Koran Tempo

Sebelum aku memutuskan pergi dan menghuni kamar petak yang suram itu, seminggu sebelumnya secara diam-diam Den Mas Bayu mengajakku membaca majalah Djawa Baroe. Majalah yang dikontrol langsung oleh Keimin Bunka Shidosho [1]. Di sana tertulis betapa Jepun, yang menyebut dirinya sebagai “saudara tua” itu, adalah harapan baru bagi pribumi. Lewat cerita pendek, cerita bersambung, esai, serta drama di dalamnya, Jepun memberikan gambaran-gambaran betapa Londho itu tak ubahnya penyakit yang pantas ditumpas. Barat adalah petaka. Nippon adalah harapan.

Di bawah pohon nangka di belakang rumah Ndoro Siten, aku dan Den Mas Bayu menikmati halaman demi halaman Majalah Djawa Baroe. Sampai akhirnya, bukan hanya suara Den Mas Bayu yang bekerja membacakan apa saja yang tertulis di sana, tangannya perlahan tapi pasti ikut bekerja. Meraba, membelai. Matanya yang bertahun aku kenal bersorot lain. Penuh rindu, kemesraan, dan keinginan yang entah, aku sendiri sulit menerkanya.

***

Kamar nomor lima dengan tulisan Tamae di pintu. Sejak memasuki kamar itu, namaku menjadi Tamae. Orang-orang di seputaran rumah besar dengan deretan kamar-kamar itu memanggilku Tamae. Awalnya aku tak bisa menerimanya begitu saja, namaku Sudjiati, bukan Tamae. Namun percuma saja, semua orang di sana jauh lebih senang memanggilku dengan sebutan Tamae. Bagi mereka, nama Sudjiati bukanlah nama yang cocok untuk lidah mereka. Serdadu-serdadu Jepun itu lebih senang memanggilku begitu. Seperti halnya diriku, temanku Sumiati juga dipanggil dengan nama lain, berbau nama Jepun juga. Sumiati dipanggil Hana, sesuai nama yang tertera di pintu kamar nomor empat. Mau tak mau, kami harus menerima nama baru yang disematkan para serdadu Jepun itu. Tamae, Hana, dan nama-nama khas perempuan Jepun lainnya menjadi sangat akrab di telinga kami.

Semuanya berawal saat aku bertemu dengan Zus Nancy, kenalan lama keluarga Ndoro Siten. Pertemuan yang berbuntut panjang. Pertemuan yang menjungkirbalikkan nasib yang tertulis di kening kehidupanku. Andai saja Den Mas Bayu, putra bungsu Ndoro Siten itu, tak mencintaiku dan menganggapku sebagai kekasih, mungkin aku tak perlu lari dari rumah Ndoro Siten dan tergiur ajakan Zus Nancy. Menjadi pemain sandiwara serta disekolahkan gratis, begitu menarik perhatianku. Menurut Zus Nancy, semua itu peluang bagus untukku ketimbang hanya menjadi jongos di rumah Ndoro Siten dengan gaji kecil. Kata Zus Nancy, aku masih muda dan peluangku masih besar untuk masa depan yang lebih baik. Aku sendiri tak pernah memusingkan tentang gaji, hanya saja ketika menyadari cinta terlarang Den Mas Bayu denganku yang tak sepadan, saat itu juga aku berpikir bahwa seharusnya aku pergi saja dari sana. Di saat seperti itulah Zus Nancy datang menawarkan bantuan.

Advertisements