Cerpen Kiki Sulistyo (Rakyat Sultra, 08 Juli 2019)

Mata Hijau Anjing Danau ilustrasi Istimewa.jpg
Mata Hijau Anjing Danau ilustrasi Istimewa

Mereka butuh senjata, apa saja; panah, sumpit, senapan rakitan, pisau terbang, apa saja yang bisa membidik dari jarak jauh. Anjing itu besar sekali, hitam bagaikan malam; hanya matanya yang hijau menyala. Kepala dusun sudah kasih perintah untuk buru itu binatang, supaya tidak lagi memangsa ternak; anak sapi, ayam, bebek, atau kambing. Kepala dusun bilang akan undang beberapa dukun, orang sakti dan cempiang dari lain dusun untuk membantu menghabisi binatang itu, konon binatang itu gesit bukan main, juga ganas dan berbahaya.

Pada musim hujan terakhir binatang itu muncul. Ada memang kisah lama perihal anjing besar, anjing jadi-jadian, yang datang ke dusun mencari tumbal. Tapi tidak ada yang pernah melihatnya. Beberapa hari lalu seekor kambing kepunyaan warga hilang, bangkai kambing itu ditemukan di sawah; nyaris habis dagingnya menyisakan tulang-tulang rangka semata. Lalu ada serakan bulu ayam, potongan kaki bebek, dan seekor anak sapi hilang dari kandangnya pada hari yang lain. Warga jadi gusar dan waspada, setiap malam -nyaris setiap malam- ada saja ternak yang hilang dan sebagian sisa tubuh ternak-ternak itu ditemukan di suatu tempat keesokan harinya.

Para warga adakan musyawarah di balai dusun. Mereka sepakat anjing besar itu yang sudah memangsa ternak mereka meskipun tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya. Kepala dusun yang pertama kali meyakini dan mengatakan hal itu. Lalu dia berjanji akan meminta bantuan dari luar. Musyawarah juga menyimpulkan kalau anjing itu harus dibunuh dari jarak jauh, tidak mungkin berhadapan langsung dengannya. Binatang itu terlalu cerdik, terlalu ganas, dan terlalu berbahaya. Mereka butuh senjata, apa saja yang bisa membidik dari jarak jauh.

Ketika warga telah berupaya mengumpulkan berbagai senjata, kepala dusun tiba-tiba pergi ke ibu kota, pada suatu hari, tanpa memberi tahu warga. Ketidakhadiran kepala dusun baru disadari setelah ia pergi sekian hari lamanya. Ada yang bilang dia pergi untuk mencari bantuan, menghubungi salah seorang keluarganya. Tapi ada juga desas-desus kalau dia sedang sakit dan berusaha mencari obat. Istri kepala dusun tidak bisa dimintai keterangan, ia cuma bilang suaminya pergi ke ibu kota, selebihnya ia tidak tahu apa-apa. Kenyataannya kepala dusun tak balik-balik, seakan-akan dia pergi untuk selamanya. Berangsur-angsur warga menyadari satu hal; sejak kepergian kepala dusun tidak ada lagi ternak yang mati. Aneh, memang aneh dan terasa seperti cerita yang dibuat-buat. Tapi begitulah kenyataannya. Diam-diam warga berharap, kepala dusun tidak kembali lagi.

Suatu sore, kepala dusun itu tiba-tiba muncul lagi. Waktu itu sudah ada kepala dusun yang baru; seorang yang lebih muda dan kelihatan cerdas serta punya ambisi dan semangat tinggi untuk mencapai cita-citanya. Sewaktu hendak diadakan pemilihan, terjadi pertentangan pendapat apakah pemilihan itu tidak melanggar aturan. Seorang berkepala botak, yang konon pernah kuliah jurusan Sospol, berkata bahwa tidak baik dan akan berbahaya jika suatu daerah mengalami kekosongan pimpinan, karena itu pemilihan tersebut sudah wajib dilakukan untuk kemaslahatan warga. Karena pada kenyataannya kepala dusun yang lama itu tidak bisa dicari dan tidak bisa dihubungi, para warga akhirnya sepakat. Lagi pula, kata lelaki botak itu, pemerintah kabupaten sudah menyerahkan sepenuhnya keputusan pada hasil musyawarah dusun.

Advertisements