Cerpen Mutia Rahmah (Analisa, 07 Juli 2019)

Senyum di Dalam Kanvas ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw
Senyum di Dalam Kanvas ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

Bulir-bulir bening menjatuhi kedua bukit pipiku yang kata orang-orang sedikit menggembung. Lelehannya terasa hangat dan makin memanas tatkala kutatap lebih lekat lukisan di hadapanku. Lukisan seorang perempuan. Terlihat masih sangat belia dengan kebaya jingga bersongket keperakan, senada dengan selendang yang terjuntai indah di bahu kanannya.

Rambutnya yang bergelombang tergerai, hingga sebagian menutupi sebelah kiri daun telinganya. Tak seperti Monalisa yang tersenyum penuh misteri, perempuan itu tak menyunggingkan senyum sedikitpun. Di sudut-sudut mata perempuan itu tergambar jelas garis-garis kegetiran.

Perempuan itu duduk dengan penuh keanggunan di atas sebuah kursi kayu berukir dengan latar belakang cokelat muda. Tidak ada seorang pun akan menampik jika dikatakan perempuan dalam lukisan itu adalah perempuan yang sangat memesona. Secuil keterangan yang dapat kuperoleh dari lukisan itu hanyalah angka 1958, tersemat di sudut kanan bawahnya. Tiada nama ataupun embel-embel lain yang menunjukkan gerangan si seniman pembuat. Mungkin pembuat enggan mencantumkan nama pada karyanya. Mungkin juga dia ingin karyanya lebih hidup jika tak seorang pun mengenal dan mengetahui si pembuatnya.

Bukahkah manusia sebenarnya seperti itu? Hanya bisa menerka dan menamai penciptanya sedang mereka sendiri tak tahu pasti bagaimana penciptanya. “Pemberian seorang teman.” Begitu jawaban pemiliknya ketika suatu waktu aku bertanya.

Tanganku meraba lembut wajah yang terpampang pada kanvas berukuran lebar satu meter itu. “Wajahmu masih halus, Ma.” Bibirku bergetar. Ruangan tempatku berdiri menatap lukisan itu masih riuh dipenuhi suara-suara sumbang. Pemilik wajah halus itu baru saja pergi menuju perjalanan panjangnya. Pintu rumahnya yang berupa tanah kemerahan sudah tertutup.

“Selamat jalan!” Bukankah begitu orang-orang mengucapkan kata pengantar bagi seseorang yang pergi menuju mautnya? Taburan bunga, mantra, dan segala doa serta lelehan air mata turut serta menjadi iring-iringan duka. Siapa yang berduka? Bukankah mati hanya soal berhenti? Kemudian segalanya kembali seperti semula, tangis pengiring beserta seluruh rasa menguap bersama aroma kamboja.

Advertisements