Cerpen Gandi Sugandi (Pikiran Rakyat, 07 Juli 2019)

Taman Cinta ilustrasi Ismail Kusmayadi - Pikiran Rakyatw.jpg
Taman Cinta ilustrasi Ismail Kusmayadi/Pikiran Rakyat

Wandi, karyawan pindahan dari kota lain, yang kini menjadi staf komunikasi di kantor besar ini, sudah satu bulan menjadi bahan pergunjingan nyaris semua karyawan. Katanya, beberapa buku puisi selalu terserak di meja kerjanya. Di sela-sela pekerjaan rutin sehari-hari, katanya juga, Wandi selalu menyempatkan membaca dengan pelan puisi-puisi. Bahkan pernah di satu saat, ketika kantor sedang kosong, Wandi tepergok rekan kerjanya lelaki sesama staf sedang membaca puisi dengan lantang seraya berdiri di ruang kerjanya.

Rekannya ini, lalu melaporkan keseharian Wandi kepada kepala kantor. Namun kepala hanya menegur Wandi dengan lisan, karena sebenarnya masih bisa dimaklumi. Dengan pertimbangan, pekerjaan sehari-harinya selalu beres, berita-berita selingkungan kegiatan kantor besar selalu diliput. Yang melaporkan Wandi pun merasa terpojok, saat Kepala berkata, “Kan berarti Wandi menyukai puisi sebagai hobinya. Kau juga kan punya hobi. Bukankah kesukaanmu memancing?”

Merasa mendapat sokongan, keseharian Wandi di kantor makin saja menggilai puisi. Saat pagi masuk ruangan, yang pertama dikerjakannya adalah membaca buku puisi, meskipun dalam hati. Saat siang atau pun sore, selalu saja menyempatkan membaca beberapa puisi. Setiap menikmati puisi itu, Wandi bermimik serius, berkonsenterasi penuh pada setiap kata yang dibacanya. Pernah pada satu puisi yang dibacanya, air matanya menetes. Perihal ini, rekan kerjanya itu kembali melaporkannya pada Kepala. Jawaban Kepala menohok, “Puisi itu tidak sembarangan dibuat. Dengan sepenuh jiwa raga. Ada kegelisahan penyair yang hendak disampaikan, sehingga bisa masuk ke sanubari pembaca. Puisi bukan rentetan kata semata.”

“O begitu Pak. Tapi, saya tidak suka puisi…”

“Eh.. jangan sembarangan bicara ya…”

Kini Wandi disela-sela pekerjaaan, selain menikmati puisi, juga membuat puisi-puisi secara autodidak. Dengan susah payah membuatnya. Bahkan di rumah pun, selalu mencoba. Pernah di satu malam hening, saat membuat bait-bait bertema rindu, dia marah-marah sendiri, tersebab tak jua menemukan diksi yang tepat. Meskipun begitu, pada akhirnya, dalam seminggu, terciptalah puisinya sekira 5-10 puisi. Dalam satu file di flashdisk, karya-karyanya disimpan, tidak di CPU kantor karena tak ingin dibaca orang lain.