Cerpen Toni Lesmana (Jawa Pos, 07 Juli 2019)

Potret Pengemis ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Potret Pengemis ilustrasi Budiono/Jawa Pos

DADANG berdiri di bordes sejak terdengar pemberitahuan kereta akan memasuki Stasiun Owah. Larut malam. Kabut di luar jendela. Kabut tebal. Kereta api berhenti dalam gulungan kabut. Udara dingin menyambut Dadang yang berjalan mencari pintu keluar stasiun, bangunan kuno yang seluruhnya dibalur warna ungu. Sebuah jam bulat di atas pintu yang tinggi, seperti beku. Sepi. Sampai di pelataran parkir yang bersih, kabut menipis. Lampu-lampu temaram.

Beberapa motor terparkir rapi. Sebuah warung kopi. Dadang tersenyum. Sepuluh jam perjalanan yang cukup melelahkan sudah semestinya dirayakan dengan secangkir kopi. Ia melangkah sambil mengikat rambut panjangnya. Ransel di punggung dan kamera tergantung menyentuh perut yang mulai buncit.

“Mas ini wartawan, ya?” sapa ramah seorang pemuda yang sama-sama sedang menghadap cangkir kopi. Wajahnya segar dan riang. Seperti itu juga paras ibu pemilik warung. Seperti bercahaya.

Dadang menggeleng. Dihirupnya aroma kopi sebelum hati-hati meminumnya. Ia sodorkan bungkusan rokok. Pemuda gundul membalasnya dengan senyuman. Tampak sungkan menarik sebatang rokok.

“Saya cuma kuli, Dik. Kebetulan ada kerjaan di sini.”

“Kuli kok kayak mau pelesiran begini, Mas. Baru kali ini ke Kota Owah?”

Kali ini Dadang mengangguk. Sambil bercakap Dadang sesekali melihat cahaya-cahaya dari bangunan yang terbalut kabut tipis. Begitu rapi. Rumah-rumah berjajar, tenteram, dan lelap. Jalanan lebar. Trotoar terbebas dari sampah. Di pertigaan samar terlihat sebuah patung dalam kucuran air mancur dan lampu warna-warni.

“Memotret pengemis di kota ini?” Ari, begitu nama pemuda gundul yang ternyata tukang ojek, seakan tersentak. Heran.

“Kenapa?” Dadang teringat reaksi istrinya ketika ia mengatakan hal yang sama.

“Heran saja. Kok pas sekali. Ini kan musimnya pengemis di sini. Kok milih kota ini, Mas? Di kota-kota lain juga pasti banyak.”

“Musim pengemis?”

“Lebih tepatnya pesta pengemis.”

“Hahaha! Menarik ini. Pantas Murtopo menyuruhku langsung berangkat.”

Advertisements