Cerpen Musafir Kelana (Republika, 07 Juli 2019)

Pamitan pada Masjid 99 Kubah ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Pamitan pada Masjid 99 Kubah ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Kebutuhan hidup pernah memaksaku beralih menempuh tol langit dengan pesawat. Harus ontime sebagai orang sibuk. Hingga pesawat terus melangit mengurusi nasibnya sendiri yang tersisih dari persaingan pasar akibat uluran tangan manja para penumpang. Terpaksa, banderol tarif harus berani dijebol dari pelanggan yang selama ini bergerombol. Belum siap diimbangi, pelanggan pun bubar mencari jalur yang bersahabat.

Kini, kapal laut menjadi pilihan satu-satunya. Walau, di pelosok Ramadhan seperti ini kenangan traumatis pernah melelehkan bola mata ketika melewati jalur laut. Pasalnya, kendaraan ini paling bebas mempermainkan waktu sampai Ramadhan berpesta perpisahan disambut takbiran. Tetapi, tak ada kata menyerah demi mudik lebaran.

Memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil kami. Mudik lebaran menjadi momen andalan mencurahkan segala rasa, cerita bahkan karsa menuju harapan. Di sinilah impian keluarga kecil paling berkesan karena jatuh bangun perantauan dirasakan bersama sejak kecil. Selalu saja ada cerita seru ketika berkumpul seperti ini.

Aku merasa menjadi bagian penting karena tak satu pun dari keluarga kecil ini yang tak bisa berbagi cerita. Jadi, sila turahim lebaran menjadi curahan kenangan yang menjadi penyedap suasana. Bahkan, tidak jarang ada sisi lain dari pengalaman tanah seberang yang unik, lucu, dan kocak. Hanya di masa lebaranlah waktu leluasa untuk menyegarkan segala kenangan manis itu. Makanya, pesan nestapa ibu bila ada pertanda terlambat mudik, “Ibu tak butuh oleh-oleh, yang penting kamu bisa pulang berkumpul dengan keluarga”.

Ibu dan ayah memang tak pernah kehabisan bahan cerita lebaran karena sejak usia belasan tahun telah merantau. Luar biasa karena keluarga turut diboyong ke mana-mana. Bahkan, aku dan saudara yang lain, Dewi dan Arlan dilahirkan di tanah seberang. Seorang dosen bahasa ketika aku kuliah di kampus ungu Umar Bakri menggeleng kepala mengetahui riwayatku. B kan karena heran, Justru dia menganggap itu suatu kerugian karena kehilangan bahasa ibu dan bahasa rantau sekaligus.  Buktinya, hanya cerita tanah seberang yang tersisa.