Cerpen Mufa Rizal (Fajar, 07 Juli 2019)

Pabrik di Seberang Jalan ilustrasi Rizali - Fajarw.jpg
Pabrik di Seberang Jalan ilustrasi Rizal/Fajar

Dari kejauhan alat berat beserta truk pasir hilir-mudik melintasi jalanan antar kota sebelum masuk kawasan proyek. Pria dengan helm berwarna juga sepatu bots sedang mengawasi kuli sambil sesekali mengumpat.

Sebuah mobil sedan hitam meluncur pelan mendekati pos satpam, kemudian masuk setelah pagar dibuka. Seorang bersetelan jas hitam perlente dan sepatu mengkilat turun dari kendaraan. Ia melihat bangunan hampir jadi dengan wajah puas lalu memanggil arsitek juga mandor menemani minum di kantor.

Laki-laki itu setia menunggu mata kail disambar ikan. Debu beterbangan dibawa angin kemarau menusuk mata dan membuat sesak. Nitiarjo merutuki nasibnya yang apes belum membawa pulang tangkapan. Suara bising pekerja dari seberang jalan menambah sebal. Sebuah pabrik paralon atau besi tak lama lagi berdiri. Daerah itu dulunya lahan pertanian luas ditanami jagung juga tebu. Namun semua berubah, anak dusun enggan menjadi petani atau repot merawat sawah. Mereka lebih senang bekerja di pabrik.

Nitiarjo menicum bau tahu sekitar lima puluh depa dari tempatnya duduk. Bangunan tua peninggalan Belanda disumpeki pekerja mengangkut kedelai. Ia masih ingat bagaimana lori membawa tanaman tebu dari ladang untuk kemudian ditarik kereta uap dan berhenti di penggilingan. Rel-rel sisa kejayaan pabrik tebu milik kompeni beberapa raib digasak pengumpul besi.

Tak jauh dari sana jembatan besi sering digunakan anak dusun balap liar saban minggu saat puasa. Sungai Utara begitu orang menyebutnya. Tak ada anak kecil mandi atau berenang di sana. Beberapa orang tenggelam, foklor yang dipercaya masyarakat adalah jin sungai sering meminta tumbal atau sajen.

Ia masih mengingat kedatangan Lurah Jono. Nitiarjo duduk di teras menimati rokok kretek hasil lintingan sendiri. Wajah pemimpin itu lebih ramah dari biasanya, kumis baplangnya seolah hilang dan aura tegasnya memudar.

“Semu warga pemilik tanah di seberang sungai sudah setuju menjual tanah mereka untuk dibangun pabrik,” papar Lurah. “Tinggal tanahmu, Nitiarjo. Pak Gunawan berani membeli dua kali lipat dari harga biasanya. Apalagi tanah itu lokasinya srategis dekat jalan besar.”

Advertisements