Cerpen Rafendi (Singgalang, 07 Juli 2019)

Mungkinkah Kebahagiaan Ketiga Itu Akan Hadir ilustrasi Singgalangw.jpg
Mungkinkah Kebahagiaan Ketiga Itu Akan Hadir ilustrasi Singgalang

TEK TEK TEK TEK TEK Banun, tinggal di gubuk beratap rumbia bersama anak bungsunya, si Upik. Menjelang 50 tahun umurnya, ia telah dua kali merasakan kebahagiaan. Yang pertama, sekitar dua puluh empat tahun lalu, ketika ia menikah dengan suaminya. Yang kedua, sekitar 22 lalu, ketika ia melahirkan si Ujang, anak pertamanya.

Hari ini, Tek Banun berharap, Tuhan menghadirkan kebahagiaan ketiga. Setelah shalat Jumat, si Ujang yang telah lima tahun merantau, pulang untuk menikahkan adiknya dengan seorang polisi.

Sebelumnya,Tek Banun pesimis kehendak hati si Upik itu, bisa jadi kenyataan. Masalahnya, walaupun tidak sesuai dengan ajaran agama Islam di ma na lelaki yang memberikan mahar,di nagari tempat ia menumpang hidup seka rang, keluarga pihak calon mempelai wanita berlomba-lomba memberi uang hilang [1] kepada keluarga calon mempelai pria.

Sepekan lalu, Tek Dayang, tetangga sedusunnya, memberi uang hilang lima puluh juta rupiah kepada mamak calon menantunya. Jumlah sebanyak itu dinilai wajar karena calon suami anaknya adalah PNS di Kantor Bupati Padang Pariaman.

Bagi Tek Dayang, uang sebanyak itu, tidak jadi masalah. Sesuai pasal ketiga dalam ketentuan adat Minang, apabila ada gadisgadang belum bersuami, boleh menggadaikan sa wah dan ladang dengan emas senilai uang hilang itu.

Bagi Tek Banun, jangankan mengggadaikan sawah, gubuknya menumpang di atas tanah pusaka kaum mamak angkatnya. Karena si Upik terus mendesak, Tek Banun memvidio call si Ujang. Ia sampaikanlah hasrat hati si Upik itu. Karena kita yang berkehendak, harus disediakan uang hilang-nya.

Si Ujang setuju. Ia berjanji, pekan depan mentransfer uang ke rekening adiknya seratus juta rupiah untuk uang hilang dan ongkos Naik Haji ibunya ke Mekah.

Seminggu kemudian, si Ujang mentransfer uang ituke rekening adiknya.

Setelah si Upik mengambil uang itu, Tek Banun meminta Mak Unyiang, mamak angkatnya, untuk meninjaunya.

Dua hari kemudian, Mak Unyiang via vidio call memberi tahu Tek Banun, bahwa mamak calon suami si Upik, meminta uang hilang seratus juta rupiah.

“Mak Unyiang, kok banyak amat?” tanya Tek Banun.

Advertisements