Cerpen Eva Riyanty Lubis (Analisa, 07 Juli 2019)

Mata Hati Santun ilustrasi Agustinan - Analisaw.jpg
Mata Hati Santun ilustrasi Agustinan/Analisa

Mataku menatap nanar hamparan yang membentang luas di depan sana. Kotaku, Padang Sidimpuan—Sumatera Utara—tampak kecil. Sangat tidak beraturan. Bisa dibilang amburadul.  Satu yang aku suka yakni banyaknya tumbuh-tumbuhan di sini, membuat suasana nyaman. Jauh dari polusi, juga kemacetan.

“Santun, dari tadi melamun terus. Pulang yuk?” Asni menepuk pundakku dari belakang. Dia baru saja membeli minuman kaleng dan beberapa bungkus makanan ringan.

“Ah, aku masih capek. Lagian kamu juga baru membeli makanan dan minuman. Santai sejenak dululah,” ujarku pelan tanpa memandang sedikit pun ke arah cewek bertubuh tambun itu.

Hari ini, seperti hari Minggu sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk maraton di Bukit Simar­sayang, salah satu tempat pariwisata di Padang Sidimpuan meskipun belum begitu terurus. Namun suasananya yang nyaman selalu membuat pengunjung ketagihan untuk terus datang berkunjung.

“Haduh Tun, aku sudah capek. Pengen cepat sampai rumah. Terus tidur atau nonton,” gerutu Asni dengan tampang kesalnya.

Aku meliriknya sebentar. “Asni, aku juga masih capek lho. Kamu ‘kan bisa makan cemilanmu dulu. Lagian kalau kamu tidur habis maraton, berat badanmu tidak bakalan berkurang. Malah sebaliknya,“ jawabku asal sembari menatap matanya tajam.

Asni jadi senyam-senyum sendiri. Mendadak salah tingkah. Maklum, dia paling tidak suka kalau berbicara masalah berat badan. “Iya iya. Jangan melotot gitu. Sangar, tahu nggak sih? Menakutkan!“

“Biarin,” kujulurkan lidah ke arahnya. “Kamu juga sih. Biasanya paling betah di sini. Ini malah mau cepat-cepat pulang. Cemilanmu aja belum dimakan.”

“Sebenarnya ada sesuatu yang mau aku omongin padamu, Tun,” ucap Asni masih dengan cemilan di mulutnya.

Aha dei?” [1] tanyaku penasaran.

“Janji na tola protes!” [2]

Olo. Pacepat bo dokkon!” [3] desakku tak sabar. Tak biasanya Asni menunda-nunda omongan.