Lepas siang Muzaini baru berkesempatan untuk pergi keluar rumah. Ibu sedang ada tamu untuk membicarakan pekerjaan. Mungkin itu pembeli yang akan membeli beras hasil panen milik ibu. Diam-diam Muzaini pergi ke rumah Wak Rohim. Tapi di tengah jalan ia bertemu beberapa orang. Mereka berduyun-duyun berjalan ke arah rumah Wak Rohim. Muzaini melihat mereka dengan tatapan bingung. Seorang anak muda berusia belasan tahun juga turut berjalan ke arah rumah Wak Rohim, dengan cepat Muzaini bertanya.

“Adik, mau ke mana kalian ini? Kenapa beramai-ramai?” Muzaini bertanya sembari tersenyum ramah.

“Oh, Bang Muz. Iya, kami akan melaksanakan kenduri,” sahut pemuda itu sembari menyalami Muzaini.

“Kenduri? Kenduri di mana?” Muzaini bertanya lagi.

“Kenduri ke rumah Wak Guru Rohim.”

“Kenduri untuk apa?” Muzaini semakin kebingungan. Ada acara apakah sampai dilaksanakan kenduri di rumah Wak Rohim.

“Kenduri untuk memeringati empat puluh hari kepergian Wak Guru Rohim menghadap Gusti Allah.” Sahut pemuda itu sembari menatap Muzaini dengan tatapan terheran-heran. Ia tak menyangka, kalau Muzaini belum tahu bahwa Wak Guru Rohim sudah meninggal.

Muzaini tak bisa berkata-kata. Kepalanya mendadak terasa pening. Kabar yang ia terima seolah menggetarkan hatinya. Dengan langkah yang seakan limbung, Muzaini berjalan ke arah rumah Wak Rohim. Di sana orang-orang sudah banyak yang datang. Doa dihantarkan untuk Wak Rohim. Tangis Muzaini tak bisa ditahan. Penyesalannya semakin menjadi, ketika melihat surau kecil tempat Wak Rohim mengajar mengaji telah rubuh.

“Muzaini, kau juga ke sini ternyata?”

Muzaini menoleh, ibunya sudah berdiri di belakang tubuhnya.

“Ibu kenapa tak berbagi kabar jika Wak Rohim meninggal?” tanya Muzaini masih terisak.

“Ibu lupa mau berkabar denganmu. Tiap kali ibu telepon, kau selalu cepatcepat menutup lantaran sibuk. Setelahnya ibu selalu lupa mengabarimu.” Ibunya mengamati Muzaini dengan iba.