Cerpen Seprianus (Padang Ekspres, 07 Juli 2019)

Mak dan Tanahnya ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Mak dan Tanahnya ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Jika ada yang bertanya tentang apa yang paling membuat Mak sedih dan merasa kehilangan, hal itu pastilah tentang tanahnya. Bagi Mak tanah itu adalah harapan yang telah ia pupuk untuk anak-anaknya. Sebuah bentuk perwujudan dari keinginan masa lalunya yang pernah hilang.

Tanah itu adalah harta pusaka. Sebagaimana kata adat, maka tanah itu, kaulah yang punya, Rubiah. Tidak si Munawir. Tidak pula punya abakmu!

Masih segar dalam ingatan, suara andeh meninggi emosi ketika pembicaraan menyangkut abaknya. Mak masih kanak-kanak kala itu dan belum tahu apa-apa soal harta warisan. Juga soal hubungan andeh dan abaknya.

Seingat Mak, abaknya jarang sekali ada di rumah. Jika sudah demikian, Mak tak akan berani bertanya. Andeh mendadak akan menjadi ibu paling pemarah. Segera setelah itu panci dan kuali akan berkelontangan di dapur jadi pelampiasan kemarahan. Dan Mak hanya bisa sesenggukan tak berdaya di sudut dapur menyaksikan andehnya mengumpat dan menyerapah entah pada siapa.

Tahun-tahun berlalu. Seiring waktu dan tumbuhnya kedewasaan, Mak mulai paham. Mak semakin terbiasa dengan perilaku andeh setiap kali abak tak berada di rumah.Tak ada wanita yang sudi dimadu.

Seperti andehnya, kadang Mak ikut juga membenci abak. Mak sangat membenci laki-laki karena keegoisannya. Mak membenci kebanggaan tolol mereka beristri lebih dari satu, yang mengabaikan banyak hati wanita yang terluka serta rasa malu akan ditanggung anakanaknya.

Dulu abakmu itu hanya membawa sehelai baju saja ke rumah ini. Ia tak punya apa-apa. Juga pekerjaan. Makanya ia berladang di tanah itu. Menanam padi, sayur, palawija, dan juga memelihara beberapa ekor ayam dan itik. Kalau tak begitu, kita tak bisa makan. Setelah uda kau si Munawir itu lahir, ia mulai banyak perangai. Merasa mampu memberi makan, agaknya satu bini saja tak cukup baginya!

Sejak saat itu, bagi Mak, keberadaan seorang ayah menjadi tak begitu berarti. Mak sudah terbiasa membantu andeh di dapur setiap hari. Mulai dari parak subuh, Mak sudah menyiapkan gulai lontong, rebusan sayur lotek, bubur putih, lupis, dan air panas untuk dijual di kedai depan rumah. Dengan cara itulah Mak punya uang belanja, bayar uang sekolah, membeli baju, dan memenuhi makan sehari-hari. Bahkan jauh di dalam hatinya, seandainya pun abaknya tak pernah pulang dan tidak memberinya apa-apa, ia tak akan pernah peduli dan tidak akan pula  merasa iba hati. Mak masih bisa hidup dan berdiri.

Advertisements