“Hah!” Marto mendesah berat lagi.

Sekarang, Marto tidak mau mengingat apa-apa lagi. Dia fokus memikirkan soal lembaran baru.

“Tetapi lembaran baru macam apa? Usaha macam apa?”

“Tentu usaha yang membuat aku bisa mendapatkan uang besar setiap bulannya,  juga yang membuat aku bisa ke luar kota setiap minggunya.”

“Mana modalnya? Sebagian besar uangmu sudah kau habiskan, Marto. Bukankah dulu kau pernah mengatakan, di kota kecil ini pekerjaan yang bisa menghasilkan keuntungan besar hanyalah menjadi anggota dewan kota, bukankah begitu?

“Ya, benar. Tetapi aku harus membuka lembaran baru. Aku harus bisa menghasilkan dan mengumpulkan uang. Aku harus bisa pergi ke luar kota setiap minggunya.”

“Lembaran baru macam apa?”

“Hah! Entahlah.”

Marto mengembuskan napas kuatkuat, mengakhiri pergelutan dengan dirinya sendiri. Kini sepasang matanya terarah pada dinding pagar. Tatapannya kosong. Kepalanya masih berpikir. Dia masih bingung, harus membuka lembaran baru macam apa. Di sela bingungnya itu, ada sepotong wajah membayang di matanya, wajah Amera. Bibir Marto tersenyum. Dia tak menyadari, kalau di ruang tamu, di bawah lampu yang padam, ada sepasang mata perempuan, yang menjadi penonton diam-diam. Itulah mata Malea, istri Marto-perempuan yang sampai saat ini masih belum bisa menerima kekalahan Marto.  ❑-e

 

Asoka, 2019

Agus Salim, lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980, tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017

Advertisements