Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 07 Juli 2019)

Lembaran Baru ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Lembaran Baru ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

MARTO duduk di beranda. Sepasang matanya beradu dengan cahaya lampu beranda rumah tetangga. Sesungguhnya, bukanlah kebiasaan Marto duduk sendiri di beranda. Biasanya, setiap selepas Magrib, kalau tidak ada acara keluar rumah, dia suka berdiam di kamar, atau ruang tamu, atau dapur, demi menghindari tamu. Dia mulai berani duduk di beranda karena merasa yakin tidak akan ada tamu lagi yang akan minta bantuan ini dan itu. Lima hari sudah dia suka menyendiri di beranda selepas Magrib. Kali ini, kembali dia memikirkan soal lembaran baru. Tetapi, dia tak tahu, lembaran baru macam apa yang harus dia buka.

Cahaya lampu itu rupanya memerangkap mata Marto. Dan itu membuat dia harus teringat pada wajah kota-kota besar yang pernah dia kunjungi, kota-kota yang ramai, bising, dan dipenuhi cahaya lampu ketika malam hari. Dia juga teringat pada cahaya lampu bandara. Dan, terakhir, dia teringat pada cahaya lampu rumah seseorang yang dia kasihi-perempuan cantik berparas rembulan, bertubuh seksi, usia 35 tahun lebih, Amera namanya.

“Hah!” Marto mendesah berat.

Lalu, dia teringat pada sejumlah uang. Tidak sedikit. Satu miliar lebih. Uang yang sudah habis dalam pertarungan perebutan suara pada pemilu dua bulan yang lalu. Uang yang sudah dia kumpulkan selama dua periode (sepuluh tahun) menjabat sebagai anggota dewan kota. Uang yang dia hasilkan dari komisi menjual proyek, pemberian kolega, dan perjalanan dinas ke luar kota. Sungguh, Marto tak pernah menyangka, kalau pada akhirnya harus kalah. Juga tak pernah menyangka, kalau di tempat tinggalnya sendiri dia hanya memperoleh suara sedikit. Sedikit sekali. Bahkan, bisa dihitung dengan jari. Itulah yang menyebabkan hatinya sakit. Itu juga yang kemudian membuat dirinya merasa malu keluar rumah.

“Hah!” Marto mendesah berat lagi.

Kemudian, dia teringat pada peristiwa yang terjadi sehari setelah pengumuman pemenang pemilu. Peristiwa itu terjadi pada malam harinya. Dia menyendiri di dalam kamar. Berusaha menenangkan diri sendiri sambil merenung. Tak menghiraukan suara tangis perempuan yang berasal dari luar kamar, suara tangis kekalahan. Marto hanya hirau pada isi kepalanya sendiri. Dan, di ujung merenungnya itu, setelah puas mengeluarkan umpatan lirih yang ditujukan kepada orang-orang yang telah dia beri uang, ada dua pertanyaan mengganggu pikiran dan kesendiriannya: Aku kurang baik bagaimana sama mereka? Apakah bantuan uang dan proyek yang setiap tahun aku berikan tidak cukup untuk mengunci suara mereka? Dua pertanyaan itulah yang sampai sekarang tidak bisa terjawab. Kala teringat kembali pada dua pertanyaan itu, Marto merasa sesak dadanya, seolah ada gumpalan besar yang menghimpit ulu hatinya.

Advertisements