Hari dengan cepat berubah sore. Bapak Kartini baru kembali dari berkebun. Seminggu ini ia menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran istrinya saat pulang ke rumah. Ia tahu istrinya marah, tapi ia yakin seiring waktu kemarahan itu akan hilang dengan sendirinya. Sementara itu, Kartini yang mengetahui bapaknya pulang, buru-buru naik lagi ke atas kasur, berbaring memunggungi pintu kamar.

Kartini mendengar bapaknya memasak air untuk menyeduh kopi, lalu duduk–mungkin di ruang tamu–sambil membakar sebatang rokok.

Suara pintu diketuk dan sekalimat salam terdengar dari luar. Bapak menyahut dan segera membukakan pintu. Dengan nada hormat dan kegembiraan berlebihan, Bapak menyilakan tamunya masuk.

Di kamarnya, Kartini menggigil. Pelan-pelan ia menarik kakinya, meringkuk, mencari rasa aman. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi, dan tak tahu mengapa saat itu satu tangan anak Pak Kades tiba-tiba memeluknya, sedangkan tangan yang lain membekap mulutnya.

Kartini menginginkan Ibunya. Ia sangat membutuhkan ibunya lebih dari apa pun sekarang. Walau ibunya hanya diam ketika Bapak menudingnya tidak bisa mengurus anak perempuan mereka, walau ibunya juga tidak protes ketika Bapak dan kakak lelakinya setuju pada penawaran Pak Polem untuk mengganti rugi perbuatan anak Pak Kades kepadanya, tetapi ia akan merasa tenang jika ibunya ada di sisinya sekarang.

Semenjak berita tentang Kartini yang sudah tidak perawan menyebar ke penjuru desa, ibu Kartini berhenti berkata-kata kepada siapa pun. Ibunya juga diam seribu bahasa saat para tetangga mengabarkan anak Pak Kades telah berangkat lagi ke kota. Sejak hari itu, ibunya tak lagi bekerja di rumah Pak Kades. Sejak hari itu pula, ibunya, setelah memasak nasi dan sekadar lauk di pagi buta, selalu pergi dan menghilang sepanjang hari. Ia kembali saat hari gelap, membersihkan diri sebentar, lalu tidur di samping Kartini, memeluk anak perempuannya itu, tanpa berkata-kata.

Kartini semakin gelisah. Ia membolak-balik badannya. Terdengar suara Pak Polem dan bapaknya berbicara. Di telinga Kartini, tak jelas lagi apa yang mereka bicarakan, yang ia dengar hanyalah kata ‘Kartini’, dan ‘seekor sapi’.

Kartini terus menggigil. Dunia terasa dingin, beku, dan kejam. Kartini tak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup saat dunia, dua sahabatnya–Laras dan Sati–serta segala yang ia ketahui, direnggut dan digantikan dengan seekor sapi. (M-2)

 

Nilla A Asrudian ialah seorang cerpenis dan penulis lepas yang kini berdomisili di Depok. Selain buku cerpen Warna Cinta(-mu Apa?), ia juga sudah merampungkan dua novel, yaitu Aku Adiva dan Simulacrum. Kedua novel itu belum diterbitkan.

Advertisements