Cerpen Nilla A Asrudian (Media Indonesia, 07 Juli 2019)

Kartini dan Seekor Sapi ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Kartini dan Seekor Sapi ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

MATAHARI sudah meninggi ketika Kartini membuka mata pada hari itu. Semua orang membiarkan ia tidur lebih lama, tak ada yang membangunkan. Padahal, biasanya pagi-pagi sekali sebelum ayam berkokok, suara ibunya sudah nyaring menyuruhnya segera bangun.

Hari ini memang berbeda. Udara menghangat, tapi Kartini merasakan dingin menjalari kaki dan seluruh tubuhnya. Di luar rumah, ketika semua orang telah disibukkan dengan berbagai kegiatan—orang-orang tua di kebun, pemuda-pemuda di pabrik, dan anak-anak di sekolah—Kartini merasa dunia bergeming. Tak bergerak dan tak bersuara, beku sekaligus kejam. Namun, sebagaimana kata Bapaknya semalam, hari ini nasibnya akan ditentukan dan ia berharap semua keterasingan yang dirasakannya akan berakhir.

Kartini masih tak beranjak dari kasur alas tidurnya. Ia tetap berbaring sambil menarik kakinya pelan-pelan, meringkuk, mencari rasa aman.

Di belakangnya, suara milik Bapak dan kakak lelaki satu-satunya, terdengar pelan tertahan.

“Jadi bagaimana, Pak? Dipikir-pikir dulu, Apa benar cuma itu? Kenapa Bapak tidak coba minta tanah atau sawah juga?”

“Hmm… benar juga, tapi kata Pak Polem, kalau minta terlalu tinggi, Pak Kades malah tidak akan kasih apa-apa sebab katanya semua ini terjadi karena kesalahan Kartini juga. Anak itu memang tumbuh terlalu cepat. Masih bagus Pak Kades ada niat baik mau kasih sesuatu meski kita belum tahu apa itu.”

“Kalau dikasih tanah, buat saya ya, Pak. Buat bangun rumah kalau besok nikah dengan Sulasih.”

Bapak tak menyahut.

“Lihat saja nanti,” katanya kemudian. ”Ya sudah, Bapak mau perbaiki pagar kebun. Kamu berangkatlah segera ke pabrik. Datang lebih awal dari jam kerjamu kan lebih baik.”

“Iya, Pak.”

Kartini mendengar langkah keduanya menjauh. Suara pintu terdengar membuka, lalu menutup lagi. Lalu sepi.

Keheningan mengoyak kekuatan Kartini. Air matanya menderas. Remaja berumur 14 tahun itu tersedu tanpa suara.