Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sumbar, 06-07 Juli 2019)

Pulang ilustrasi Rakyat Sumbarw.jpg
Pulang ilustrasi Rakyat Sumbar

AKU ingin kau mencintaiku dan aku pun sebaliknya. Tapi itu bukan hal mudah untuk kau lakukan. Menunggu itu semua terpenuhi sama saja mengubur diri dalam tempat yang begitu dalam. Perlu waktu untuk menemukan dasarnya. Mengorbankan segala yang kau pernah kau miliki dan segala yang pernah membahagiakanmu.

“Aku belum bisa,” elakmu ketika aku memohon. Kau mengatakannya dengan suara pelan dan pasrah.

“Kenapa?” aku menuntut. Kurasa memang ada yang salah darimu.

“Karena kau tak akan bisa seperti dirinya.”

Jangan pernah membandingkanku dengan masa lalumu. Aku sedang berusaha untuk membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Semua yang ada telah kuberikan kepadamu. Tak lagi tersisa selain diriku yang kesepian. Tapi kau tak menerima segalanya dengan legawa. Selalu ada yang kurang  dan itu membunuh segala perasaan yang telanjur kubesarkan. Apa memang seharusnya aku mengalah. Tidak mungkin. Karena bagiku mencintaimu adalah mencintai diriku sendiri dengan hati-hati. Ada yang perlu dijaga dari diriku. Seperti suasana rumah yang selalu menghantui diriku. Mengganjal jalanku untuk menatap cat rumah yang lama kutinggalkan.

Untuk sekadar pulang saja aku tak mampu. Ada yang kupertaruhkan. Sebuah harga diri yang tak akan bisa dibayar oleh siapa pun. Karena untuk pulang, aku sunggu malu. Dan untuk bertahan di sini berarti aku harus menanggung hal yang lebih berat lagi: sebuah rindu. Jelas saja, karena aku kangen dengan segala apa yang ada di rumah. Tetapi aku akan merasakan dilema yang berat ketika keluarga di rumah menanyakan sampai mana skripsiku.

Itu bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Aku tak bisa menjawab sekenanya. Terlebih ketika ibu menanyaiku dengan sebuah harapan besar. Itu yang membuatku tak sanggup untuk menghadapinya. Sebuah pandangan mata yang penuh harapan dan meminta belas kasih. Aku selalu tak kuasa menatap mata itu. Tubuhku lemas seketika dan tak berdaya.

Advertisements