Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 06-07 Juli 2019)

Perempuan Lukisan Nanga ilustrasi Koran Tempow.jpg
Perempuan Lukisan Nanga ilustrasi Koran Tempo 

Kyoto di musim semi adalah sakura mekar sepekan lamanya. Mulai akhir Maret hingga awal April. Sakura yang dicintai pendeta Saigyo dan orang-orang Kyoto yang amat santun pada ketenangan musim semi.

Seorang pelukis bernama Nakashiwa baru saja mengunjungi makam kedua orangtuanya di Sadashino, tempat mayat-mayat sedih terbaring dalam lindung bayang-bayang Buddha yang welas asih. Nakashiwa pulang ke rumahnya setelah membakar dupa dan bercerita tentang hari-hari yang telah lalu kepada kedua orangtuanya.

Jalan pulang ke rumah Nakashiwa dipenuhi shidare sakura merah yang tengah mekar. Penduduk setempat selalu menyukai pohon-pohon sakura tiap kali musim semi, begitu juga Nakashiwa. Pada musim semi ini, dia mengingat lagi pertemuan dengan seorang perempuan yang sampai sekarang tetap jadi model lukisan demi lukisan yang digarapnya.

Perempuan itu berkata kepadanya baru saja mengunjungi biara Kiyomizu untuk melihat matahari terbenam. Kumiko Tomie, namanya. Datang dari Nara.

“Aku senang bertemu denganmu, kau seorang pelukis, kan?”

Nakashiwa saat itu kaget.”

“Apa kau mengenalku?”

“Kerabatku ada yang memajang salah satu lukisan karyamu di ruang tamu rumahnya.”

“Siapa namanya?”

“Shuujimura.”

Nakashiwa coba memanggil ingatannya. Tak ada satu pun wajah muncul atas gema nama yang diucapkan Kumiko.

“Rasanya aku tidak kenal.”

“Aku sudah mengira kau akan berkata begitu.”

“Lukisan seperti apa yang dia pajang?”

“Dua ekor anak kucing tengah bermain di dekat kolam.”

“Tunggu dulu, aku tak pernah melukis kucing. Seingatku aku hanya melukis gunung dan perempuan.”

Kumiko tertawa. Suaranya renyah sekali.

Advertisements