Cerpen Haryo Pamungkas (Minggu Pagi No 13 Th 72 Minggu I Juli 2019)

Saksi ilustrasi Minggu Pagiw
Saksi ilustrasi Minggu Pagi

Aku baru sepenuhnya mengerti arti mengerikan ketika sore itu kulihat seonggok tubuh diempaskan dari atas jembatan, menggelinding, membetur tembok penyangga sesekali,  kemudian jatuh, tenggelam sebentar lalu muncul dan mengambang, lantas hanyut seperti dedaunan bersama arus sungai. Tak perlu kejelasan apapun untuk tahu bahwa yang diempaskan dua laki-laki bermasker itu adalah tubuh seorang perempuan. Dan tak perlu sanggahan apapun untuk setuju bahwa hal itu memang benar-benar mengerikan.

Lututku gemetar sore itu dan aku hanya bisa mematung dari balik semak-semak. Jembatan penghubung desa itu memang jarang digunakan, kondisinya agak rapuh dan orang-orang desa percaya jembatan itu menyimpan banyak misteri dan luka. Konon, di jembatan itu sering terdengar pedih suara-suara minta tolong atau bunyi keras kecipak air seperti ada benda besar yang dijatuhkan dari atas. Cukup lama aku mematung sore itu, menyaksikan dua laki-laki itu pergi dengan sepeda motornya, melihat tubuh itu terus terbawa arus, membentur batu-batu sungai sesekali, sebelum kemudian benar-benar tak terlihat. Mengerikan bukan? Tentu, itu benar-benar kengerian yang singkat. Tapi aku cukup mafhum, situasi politik akhir-akhir ini memang tak bagus dan hal semacam itu banyak terjadi di tempat lain. Setidaknya begitu yang kubaca dari koran atau berita di televisi.

Esoknya, cukup bisa ditebak: desa tetangga gempar karena di sungai ditemukan seonggok mayat perempuan dengan tangan dan kaki terikat tersangkut di antara bebatuan sungai dan batang pohon. Tak butuh waktu lama untuk aparat berdatangan dan kukira, kasus ini akan menjadi sesuatu yang panjang dan lebih mengerikan.

“Sungguh, awalnya saya kira itu cuma boneka,” kata saksi yang melaporkan penemuan mayat itu. Suaranya terbata-bata dan kulihat tangannya gemetaran. Karena penasaran, aku ikut bergerombol dengan orang-orang lain. Terlihat jelas saksi itu sedang takut, cemas, tapi entah; apakah ketakutannya akibat menemukan mayat perempuan itu atau justru karena yang lain.

“Untuk apa bapak pergi ke sungai itu pagi-pagi?” tanya seorang aparat kepada saksi itu. Di tangannya ada semacam buku catatan dan kelihatannya ia bertugas mencatat apa pun yang keluar dari mulut si saksi. Sedangkan aparat lain terlihat sibuk memotret, memasang tali pembatas, memberikan pernyataan kepada wartawan, dan ada yang mencegah orang-orang desa agar tidak terlalu mendekat.