Cerpen Irfan Hasibuan (Analisa, 03 Juli 2019)

Rindu Seorang Kepala Keluarga ilustrasi Alwie - Analisaw.jpg
Rindu Seorang Kepala Keluarga ilustrasi Alwi/Analisa

SUATU siang di gubuk reot, seorang lelaki renta sedang asyik berkemas. Sebatangkara menjalani hari harinya. Anak dan istrinya telah lama pergi menuju Tuhan setelah kejadian gempa bumi lima tahun yang lalu. Kurang lebih ratusan hari yang tersisa, dia hanya berkunjung ke makam istri dan anak-anaknya. Sesekali, selesai berziarah dia pergi ke sungai. Memancing adalah pekerjaannya sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Masa mudanya telah berakhir. Tenaga-tenaga yang dulu dia punya perlahan hilang di makan waktu. Bekerja keras membuat tubuhnya kerontang. Kini kesepian berkata padanya “Sebentar lagi kau akan pulang menuju keluarga abadimu.” Sekarang yang dia lakukan hanyalah memancing atau kalau tidak lagi memancing dia hanya melamun, mengenang kenangan dengan keluarganya yang tersayang.

Selalu saja ada hal-hal yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Sore ini, hatinya mendadak dipukul rindu bertubi-tubi terhadap istri dan anak-anaknya. Tinggal seorang diri terkadang membuat hatinya membengkak. Disesaki rindu, dia hanya berdoa semoga rindunya kali ini bisa terobati. Dia tidak mau membuat keluarganya bersedih di surga karena alasan sebuah rindu yang mendesak.

Menjelang Magrib, mengenakan kain sarung dan memakai kopiah dia melangkah menuju musholla untuk menunaikan shalat Magrib. Adzan berkumandang. Syair-syair Tuhan terdengar di seluruh penjuru semesta. Mengajak orang-orang yang ada di desa untuk sejenak curhat kepada Tuhan. Langkah kakinya mengayun lembut memasuki musholla dan bersiap-siap menunaikan ibadah shalat Magrib.

Selesai shalat, dia tidak sengaja bertemu dengan Komar saat hendak meninggalkan mushollah. Komar adalah adik iparnya, usia Komar sepuluh tahun lebih muda dari dirinya sekitar empat puluh tahun. Komar mengajaknya agar mau tinggal di rumah dari pada harus tinggal sendirian di gubuk reot sana. Tetapi dia tidak mau dengan alasan yang membuat batin Komar terhentak sejenak.

“Bang Mahmud, tunggu sebentar.” Komar memanggil namanya beberapa kali sehingga dia bisa mendengar siapa yang memanggil namanya.

“Kau rupanya Komar. Ada apa memanggilku.” Dia menoleh ke belakang dan melihat adik iparnya itu berlari menghampiri dirinya.

Advertisements