Cerpen Azharul Husna (Serambi Indonesia, 30 Juni 2019)

Tikus Bermata Merah ilustrasi Serambi Indonesia w.jpg
Tikus Bermata Merah ilustrasi Serambi Indonesia

ADA lelaki tua di kampungku. Usianya sungguh tak dapat kutaksir. Sudah kutanya pada orang-orang tua di dusun,  mereka pun tak tahu, yang pasti sudah sangat tua. Sebagai  gambaran saja buatmu,  waktu aku kecil saja ia sudah kami panggil Nek. Sekarang aku sudah berusia 25 tahun. Dapat kau bayangkan berapa tua usianya?

Setiap hari laki-laki tua itu berjalan sendirian menyusuri lorong-lorong. Kadang ia membawa beberapa benda. Kadang membawa balok sebesar pemukul kasti, sesekali minyak tanah dan pernah tanpa sengaja kulihat ia sedang memainkan pemantik api.

Nama laki-laki tua itu, Nek Daud. Mulut Nek Daud bergumam tak pernah berhenti, sekali-sekali terdengar suaranya berselawat, kali yang lain ia bersenandung tak jelas atau mengoceh sendiri. Tak tanggung, suara Nek Daud jelas terdengar sampai ke ujung lorong.

Orang-orang tidak ada yang memperdulikan apa pun yang dilakukan Nek Daud, mereka sudah cukup sibuk dengan urusan masing-masing. Suara Nek Daud dianggap angin belaka. Seminggu tidak terlihat, jalanan terasa sepi. Tapi siapa yang peduli? Lagi pula ia hanya penting pada saat tertentu saja.

Pada siang hari saat anak-anak membandel, mereka tak mau disuruh tidur siang, dan  melakukan hal apa saja yang dilarang oleh orang tua mereka. Pada saat itulah Nek Daud menjadi aktor cerita jahat bagi penghuni kampung. Ibu-ibu dengan penuh semangat menjadikan Nek Daud sebagai pemeran utama dalam hikayat orang gila untuk menakuti anak-anak mereka.

Lalu kucoba mengingat-ingat, sejak kapan pula Nek Daud ini menjadi gila?

***

Dua tahun belakangan Nek Daud sering berjalan sendirian.  Sarung bercorak kotak-kotak biru dongker yang mulai kehilangan garis warna meliliti pinggangnya. Pada suatu sore di hari Jumat, saat semua aktivitas bersawah dan melaut diliburkan, hampir saja lumbung penyimpan beras milik Keuchik Nuh terbakar. Untung saja, sebelum kobaran api menjadi besar ada orang yang sempat melihat Nek Daud masuk lumbung padi sambil memantik api dari mancisnya.  Api berhasil dipadamkan, sedangkan Nek Daud dipulangkan ke rumah keluarganya.