Cerpen Diego Alpadani (Singgalang, 30 Juni 2019)

Panjul dan Pasangan Pilihannya ilustrasi Singgalangw.jpg
Panjul dan Pasangan Pilihannya ilustrasi Singgalang

PRINSIP Panjul, hidup adalah pilihan dan pilihan adalah kehidupan. Setiap yang hidup pasti memilih. Baik memilih pemimpin, memilih tempat berlibur ataupun ingin tidur di hotel bintang berapa. Intinya, bagi Panjul, memilih adalah kewajiban. Tapi pilihan yang ia ambil sering tidak masuk akal dan terbilang seperti main tebak-tebakan. Ia sering memilih seperti permainan lotre. Yang penting memilih, dan nikmatilah setiap pilahan yang sudah dipilih, paling tidak seperti itu jawaban Panjul ketika ditanya oleh sobat karibnya, Napol.

Umur Panjul sudah memasuki kepala tiga. Sewaktu berumur belasan ia pernah memilih untuk menikah ketika berumur tiga puluh satu tahun. Berarti satu tahun ke depan, ia harus sudah duduk di pelaminan dengan wanita pilihannya. Memang pernah sewaktu muda ia memilih seorang gadis kampung sebelah untuk dijadikannya istri. Tapi sayang, wanita itu lebih memilih tidak bersanding dengan Panjul, karena si wanita itu ingin menikah saat berumur dua puluh tiga tahun. Dan jarak umur Panjul dengan wanita itu hanya satu ta hun. Maka dari itulah si wanita kampung sebelah memilih untuk tidak memilih Panjul. Seperti alasan yang klise saja. Sebaiknya ia berkata jujur saja kepada Panjul, bahwa Panjul seorang pemuda yang terlalu melarat, tidak tampan dan sedikit bangsat.

Kebangsatan Panjul su dah terkenal seantero kampungnya dan puluhan kampung tetangga. Banyak kasus yang sudah ia lewati. Banyak desas-desus yang ditujukan padanya. Dari hilangnya terompah mas jid. Matinya si Jabua, anjing kesayangan Pak Rem. Raibnya pelo, jagung, kentang di ladang beberapa warga. Terbakarnya puluhan ayam dan itik sebagian warga. Banyak lagi yang lain. Dan semua itu, menurut desasdesus yang beredar adalah ulah Panjul. Bagi Panjul, kebanaran dari desas-desus itu tidaklah penting. Masih pada prinsip yang ia pakai, ia memilih untuk tetap tak acuh terhadap semua itu.

***

Panjul tergesa-gesa menemui sahabat karibnya. Ia berkunjung ke rumah Na pol. Rumah Napol tidak terlalu jauh dari rumah Panjul, karena dari itu, Panjul memilih untuk berjalan kaki. Sayangnya Panjul tidaklah disambut oleh Napol. Ia disambut oleh bini Napol yang tengah menggendong anak ke dua dari hasil kasih dan sayang Napol dan bininya. Teim, nama bini Napol. Wanita yang dinikahinya itu sudah dikenal Napol dan Panjul sejak semasa sekolah menengah dahulu. Teim meminta Panjul untuk menunggu lakinya di teras rumah yang memang sudah tersedia kursi lengkap dengan meja.

Advertisements