Jika tak bersabar, ingin rasanya kucekal tenggorokannya lalu kubanting di atas meja kerjanya, agar ia tahu bagaimana lelakinya diriku ini. Tapi keinginan itu terhenti di dada saja, kenyataannya aku melangkah kalah dari ruang kerjanya, diiringi bahak tawa yang memuakkan di belakang telinga.

Nasib yang tak mujur di perantauan, membawaku kembali ke kampung ini. Berbulan-bulan mencari kerja di kota, tak ada satu perusahaan pun yang mau menerima. Jangan tanya apa sebabnya. Nama yang tak hentihenti merundungku dengan kesialan demi kesialan itulah penyebabnya.

Kini, usiaku menginjak angka 25 dan bapak pun sudah kian menua. Setiap pulang kerja, beliau sering mengeluh separuh badannya mati rasa, asmanya kambuh akibat terlalu sering terpapar angin malam. Biasanya, seusai mengeluh, beliau tertidur di kursi rotan dengan tubuh menguarkan aroma tuak.

“Dulu bapak kerap menyambukimu dengan ikat pinggang hingga punggungmu luka lebam. Masih ingat?” tanya bapak pada suatu pagi.

“Tentu. Agar aku jadi lelaki sejati.”

“Sekarang kau sudah jadi lelaki sejati,” ujar bapak memperhatikan tubuh dan penampilanku. “Tadi malam aku sudah meminta pada Kang Darmadi, agar kau menggantikanku menjadi penjaga di lokalisasi. Kau mau, kan?” Aku langsung mengangguk. Tak mungkin pula kutolak, karena kulihat tubuh bapak yang mulai ringkih itu, tak patut dipaksa bekerja terus-terusan. Aku harus tahu diri. Oleh karena itu, tak perlu berpikir dua kali, langsung kusambar tawaran itu. Lumayanlah, untuk mengusir rasa bosan hari-hariku sebagai lelaki pengangguran.

***

Malam itu adalah malam ke tujuh aku menggantikan pekerjaan bapak, menjadi petugas keamanan lokalisasi Sedap Malam. Aku menyukai pekerjaan ini. Bekerja di dunianya para lelaki membuatku merasa menjadi lelaki sejati. Apabila ada yang tak kusukai, itu hanyalah para pengunjung kedai Mak Hindun yang selalu mengolokolokku. Dan bahan olok-olok itu tentu saja namaku. Melati.

“Kau selalu murung, Melati,” tegur Mak Hindun sambil meletakkan segelas penuh tuak yang menguarkan aroma menyengat ke hadapanku. “Berapa kaujual senyummu itu, sampai pelit betul kau memberikannya?”

Advertisements