Cerpen Adam Yudhistira (Solo Pos, 30 Juni 2019)

Melati Oh Melati ilustrasi Solo Posw.jpg
Melati Oh Melati ilustrasi Solo Pos

Jika ada yang bertanya padaku, apa yang paling kubenci di dunia ini, maka pasti akan kujawab; namaku sendiri, Melati. Aku tak menyukai nama Melati, sebab nama Melati adalah luka. Riwayat yang tersemat padanya hanyalah senarai benci dan duka cita.

Sejak kecil, aku terkucil. Tidak ada anak lelaki yang mau bermain denganku, sebab kata mereka, nama Melati adalah nama banci. Aku tentu tidak terima, sebab julukan itu menginjak harga diriku sebagai lelaki. Ketika olok-olok itu kusampaikan kepada bapak, beliau hanya menjawab, “Itu nama lelaki. Hanya lelaki sejati yang berhak menyandang nama Melati.”

Sayangnya, jawaban itu tak bisa menghiburku, apalagi menyelamatkan harga diriku. Saat jawaban itu kusampaikan kepada teman-temanku, mereka terbahak dan menudingku mengada-ada. Kata mereka, melati adalah nama bunga, dan bunga hanya cocok untuk wanita.

Saat beranjak dewasa, olok-olok itu tetap membayangiku persis teror seekor hantu. Perihal hantu, aku tak tahu makhluk ini berekor atau tidak, tetapi jelas, hantu lebih beruntung, sebab nama yang tersemat padanya memiliki gema yang membuat gentar siapa saja. Sedangkan namaku? Sekali lagi, hanya senarai benci dan duka cita.

Dari segi fi sik, sebenarnya tak ada yang menunjukkan diriku ini banci. Tubuhku gempal dan kekar, kurajahi pula lengan kiriku dengan tato seekor naga. Wajahku persegi dan rahangku ditutupi brewok yang membelukar—yang sengaja kupiara agar bisa menangkis tudingan bahwa aku banci. Tetapi lacur, semua usaha itu sia-sia.

Lantaran tak tahan, aku pernah berniat mengganti nama Melati dengan nama lelaki sejati. Aku ingin mengganti nama menjadi Bakar bin Abdullah, Edi bin Abdullah, Joni bin Abdullah, atau apa pun asal jangan Melati bin Abdullah. Sayangnya cara itu tetap saja tak berhasil, orang-orang lebih menyukai namaku Melati.

Ke mana-mana aku menanggung malu. Tidak di kampungku, tidak juga di perantauan, olok-olok nama Melati tidak bisa aku hindari. Aku bahkan pernah ditolak ketika mengajukan surat lamaran pekerjaan ke sebuah pabrik konveksi. Alasannya konyol sekali, lantaran namaku Melati dan juga tato naga di lengan kiri.

“Sebuah kombinasi yang lucu,” kata personalia itu mencibir. “Namamu Melati, tapi tubuhmu mirip kuli.”

Advertisements