Cerpen Muhammad Daffa (Radar Malang, 30 Juni 2019)

Air Pemberi Kehidupan ilustrasi Radar Malangw
Air Pemberi Kehidupan ilustrasi Radar Malang

Ketika sebagian dari warga kota memilih melupakannya, tujuh anak pengamen di bawah jalan layang malah mengenangnya sebagai pahlawan tanpa potret terbaik dalam sejarah peperangan. Ia dijuluki dengan nama pangeran kunang-kunang, atau sebutlah seorang yang gemar duduk mencangkung di puncak gedung-gedung dan merekam wajah langit ketika senja mulai angslup dan tak seorang jua pun dari kami yang peka dengan keadaan itu. Baginya itu adalah keindahan. Keindahan yang tak melulu dituliskan menjadi puisi-puisi. Keindahan yang tak lekas tanggal dan lebih memilih dituliskannya dalam narasi-narasi cerita pendek. Suatu ketika, kota diserbu ratusan tentara. Mereka menamakan diri sebagai Duli Keadilan. Tapi bagi pangeran kunang-kunang, keadilan tak pernah ada di kota ini. Ia hanya menjadi mimpi bagi mereka yang terpuruk didera nasib sebagai warga jelata.

Karena tak pernah ada yang menginginkannya menjadi milik kami. Karena tak pernah ada yang menginginkannya menjadi sepasang mata kami. Tuan Duli mengira kami buta. Padahal kami memiliki mata yang sempurna. Bisa membedakan kejadian-kejadian khayal dan kejadian yang nyata terjadi di hadapan.

Mereka tak pernah sesumbar di hadapan koloni-koloni warga kota yang mendukungnya, karena sebenarnya mereka sedang menutup kedoknya dengan topeng kepura-puraan. Nyatanya mereka tetap hantu yang sewaktu-waktu bergelora untuk menumpas kami, menembak dengan senjata-senjata mematikan. Kami tak takut. Karena pangeran kunang-kunang selalu mendoakan kami. Ia seorang pendoa yang taat dan gemar berkata-kata dalam baris narasi. Ia suka dengan segala kegilaan. Ia percaya pada keajaiban. Ia percaya bahwa mukjizat masih nyata di tengah-tengah kota. Meski sudah tak cukup banyak orang lagi yang berharap pada keajaiban, ujarnya pada suatu sore. Kami bertemu di puncak ketinggian sebuah menara yang telah dilupakan. Pangeran kunang-kunang menyulut batang kreteknya, menghembuskannya perlahan-lahan. “Kau tahu, Arsinah, sudah seberapa lama kota ini tak disebut sebagai suaka para anjing?”

Aku menggeleng. Pertanyaannya sungguh di luar dugaan. Atau ia sedang berharap pada sebuah mukjizat, di mana pada masa yang jauh berlalu, anjing-anjing sering melakukan persalinan di rumah sakit kota dan membesarkan anak-anaknya dengan perilaku yang haram jadah. Maka dari itu, katanya, kita perlu waspada pada wabah anjing. Semakin hari semakin banyak yang jadi gila karenanya. Kehilangan kewarasan. Orang-orang di kota ini semakin jauh dari kebenaran dan norma-norma dalam nubuat. Padahal kita pun adalah bagian dari mereka. Sudah selayaknya merasakan kegilaan-kegilaan itu, Arsinah. Tapi kita bukan apa-apa. Kita hanya pejalan remang yang mencari letak arus maha jernih. Kita mencari kebenaran. Sebelum mereka menculik kita lagi, seperti dulu. Tidakkah kau ingat ketika suamimu diciduk di rumah kontrakannya, tengah berkumpul bersama tujuh belas kawan-kawannya yang lain, tengah berdiskusi dan menyimak tutur sejarah kelam dari belasan buku kiri?