Cerpen Muchlis Darma Putra (Radar Banyuwangi, 30 Juni 2019)

Kinanti ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Kinanti ilustrasi Radar Banyuwangi

Bila rindu itu adalah benang tenun, sudah pasti tenunan Kinanti kini bak tenun sarung atau selendang panjang dengan motif-motif pengorbanan yang terus dikecapnya setiap hari. Kinanti tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan mengalami berbagai dera cobaan yang bertubi dan seperti tiada habisnya.

“Ke mana kamu Mas Pras?” panggilnya lirih dalam hati.

Kinanti sesungguhnya adalah kembang perawan di desanya. Kecantikan wajah oriental yang dimiliki Kinanti mampu menyihir para jejaka desa. Tidak hanya sekali dua kali lelaki genit sering menggodanya. Bahkan bandar sapi maupun tuan-tuan tanah tajir berlomba menambatkan hatinya kepada Kinanti. Kecantikannya bukan sekadar isapan jempol belaka. Tidak jarang juga laki-laki dari kampung seberang, berdatangan ke tempatnya demi melihat betapa cantik dan memesonanya Kinanti, dari ujung rambut sampai mulus tumit kakinya. Begitu molek dan nyaris sempurna, bila bukan Tuhan yang memiliki kesempurnaan, sudah pasti Kinantilah yang memilikinya.

Tidak sedikit juga gadis-gadis lain di kampungnya menaruh iri dengan karunia kecantikan yang dimiliki Kinanti. Para istri laki-laki di kampungnya itu menganggap kehadiran Kinanti sebagai momok-ancaman, takut-takut keharmonisan rumah tangga mereka terusik gara-gara lelakinya telah terjerat dengan senyum Kinanti. “Awas saja kalau sampai suamiku tergoda olehmu, Kinanti,” umpat para istri di kampung itu.

Namun ada benarnya juga penggalan peribahasa itu yang mengatakan “lain lubuk, lain ikannya”. Begitupun gejolak di lubuk hati Kinanti. Sejak pertama kali bertukar pandang, hatinya langsung luluh –kalau orang Jawa bilang kepincut– kepada seorang pemuda dari kampungnya. Prasetyo namanya. Lelaki gagah dengan penampilan bersahaja. Sorot mata tajam. Tinggi semampai. Berdada bidang, dan hai! Lihatlah otot-otot di lengannya bagai atlet di tipi-tipi. Meskipun dia hanya seorang buruh pabrik penggilingan padi di desanya, hati Kinanti telanjur kepincut. Bertekuk lutut di hadapan Mas Pras– begitu Kinanti memanggilnya.

Bak gayung bersambut, keduanya menemukan kecocokan, rasa nyaman dalam hati mereka berdua. Atas alasan itulah mereka pun menjalin ikatan serius ke dalam biduk rumah tangga. Ditautkan dengan perjanjian di atas tinta biru. Di hadapan penghulu dan beberapa saksi yang ditunjuk mereka berdua.

***