Cerpen A Zakky Zulhazmi (Kedaulatan Rakyat, 30 Juni 2019)

Guru ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Guru ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

AKU tak tahu sejak kapan ia dipanggil Guru. Tentu saja Guru di sini bukan dalam arti sempit. Bukan orang yang setiap pagi datang ke sekolah untuk mengajar muridmuridnya. Panggilan Guru, menurutku, seperti semacam panggilan penghalusan, untuk tidak memanggilnya dukun, begawan, kiai, tabib atau semacamnya.

Ia memang tokoh yang disegani di kampungku. Konon ia berasal dari pulau seberang. Konon pula, leluhurnya adalah orang-orang yang babat alas mendirikan kampungku. Tidak ada yang pasti, tapi yang pasti ia adalah seorang yang piawai menyembuhkan beragam penyakit.

Dulu, ketika aku kecil, tetanggaku terserang demam tinggi berhari-hari. Badannya panas, ia menggigil, kalau malam sering mengigau. Rumah sakit dan para dokter tak membuatnya sembuh. Keluarganya nyaris putus asa. Hingga salah seorang kerabat menyarankan untuk membawa si sakit ke Guru. Benar, saran itu dijalankan, ia pun sembuh, hanya dengan meminum ramuan racikan Guru.

Setiap hari ada saja yang mendatangi rumah Guru. Sebagian besar dalam rangka berobat, sebagian yang lain meminta “jalan keluar” untuk urusan rumah tangga, usaha yang hampir bangkrut dan lain-lain. Guru tidak pernah memasang tarif untuk jasa pengobatan yang ia berikan. Orang-orang yang datang dengan gula kopi atau hasil panen tetap ia layani dengan baik sebagaimana orang yang menyelipkan amplop tebal.

Mereka yang akan maju dalam pencalonan kepala desa selalu datang kepada Guru. Begitu juga para caleg, bahkan calon bupati dan calon gubernur. Mereka merasa perlu untuk sowan kepada Guru. Sekadar untuk minta doa restu.

Pernah juga Guru mendamaikan dua kelompok yang bertikai gara-gara pemilihan kepala desa di kampungku. Andai Guru tidak turun tangan, mungkin darah telah tertumpah.

Semua baik-baik saja, tak ada yang aneh, hingga pada suatu hari yang gelap, kampungku dihajar banjir bandang. Hujan deras berhari-hari menjadikan kampungku serupa waduk. Air di mana-mana. Sejauh mata memandang hanya air. Tak banyak yang punya rumah dua lantai di kampungku. Aku tak tahu bagaimana orang-orang bertahan. Aku juga tak tahu berapa orang yang hilang diseret banjir bandang.

Advertisements