Cerpen Remli Nelmian Simarmata (Analisa, 30 Juni 2019)

Gandum ilustrasi Wikipedia.org.jpg
Gandum ilustrasi Wikipedia.org

STAF baru sekolah bertanya kepada perempuan bernama Imel, saat dia sedang mengajar les tambahan sore, “Miss Mel, boleh saya ganggu sebentar?”

“Oh, ada apa?” tanyanya lembut

“Ini Miss, terkait soal lembar soal ujian semester. Tadi sudah di print oleh Ibu kepala staf, ada gambar yang tidak tampak jelas. Kata beliau, Miss perjelas saja dengan pulpen.”

“Oh tidak bisa. Malah lebih tidak jelas kalau gambar ini yang dipertegas ulang dengan pensil. Lebih baik print saja ulang dengan skala abu-abu, jangan berwarna”.

“Hmm, gitu ya Miss. Tadi pesan Ibu kepala staf begitu. Kalau memang begitu, ya sudah. Ku-print di luar saja, tapi mereka enggak usah tahu.”

“Lah, kenapa?”

“Ah, Miss enggak tahu kalau di kantor itu sedang panas, aku saja pun sudah malas”.

“Kenapa panas? Naik suhu ruangan, hahaha…?”

“Bukan begitu Miss. Ibu Kepsek lagi merepet. Karena tentang persiapan olimpiade-olimpiade.”

“Loh yang mengurus olimpiade, siapa?”

“Ibu Nella. Dilimpahkan ke kami. Jadi kami yang dibentak-bentak. Belum lagi, soal ujian semester mata pelajaran yang lainnya ada yang belum ngasih”.

“Hmm…. Begitu ya. Sabar, Miss. Sebelumnya, salam kenal dan terima kasih telah bergabung bersama kami. Hampir sebulan, baru beberapa hari ini kita berbicara. Apakah Miss betah di sini?”

“Masih beradaptasi sih, Miss. Kurang nyaman karena Ibu Kepsek suka bentak-bentak, padahal bukan kerjaan kami, kadang yang kami kerjakan.”

“Bagus juga itu. Tugas yang dibebankan bukan job desk kita akan menjadi pelajaran bagi kita, Miss.”

Miss…, Miss…,” teriak seorang siswa dari bawah, membuat kami berpaling kepadanya.

Miss, Miss dipanggil,” lanjutnya kemudian.

Miss, aku turun ya. Aku sudah dipanggil ke kantor.” Miss Rina namanya. Dia bergegas menuruni anak tangga ke lantai satu.